Prosedur Pendaftaran Haji Reguler

Sebelum kita membahas mengenai prosedur pendaftaran, terlebih dahulu saya akan sampaikan bahwa penyelenggaraan ibadah haji di Indonesia terbagi dalam dua cara: 1) Diselenggarakan pemerintah, dinamakan Haji Reguler. 2) Diselenggarakan swasta, dinamakan Haji Khusus (dahulu bernama Haji Plus).

Untuk Haji Khusus, penyelenggaranya swasta atau dalam hal ini adalah PT Biro Perjalanan Wisata yang telah mendapatkan ijin penyelenggaraan haji dari Kementerian Agama. Sementara untuk haji reguler seluruhnya dikelola oleh pemerintah atau dalam hal ini Kementerian Agama dipercaya menjadi koordinatornya.

Dalam artikel ini saya tidak akan membahas mengenai prosedur pendaftaran Haji Khusus, melainkan prosedur pedaftaran Haji Reguler. Berikut adalah prosedurnya.

1. Membuka Rekening Haji

Tidak seluruh Bank dapat menerima setoran haji, hanya ada beberapa bank saja yang ditunjuk sebagai BPS (Bank Penerima Setoran, diantaranya adalah: BRI, BRI Syariah, BNI, Bank Muamalat, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BTN, Bank Jateng dan Bank Mega Syariah.

Namun yang juga perlu anda ketahui, rekening haji berbeda dengan rekening tabungan biasa. Maka jika anda ingin membukanya, katakan kepada Customer Service yang melayani bahwa anda akan membuka rekening haji. Berikut adalah contoh buku rekening haji dari Bank Syariah Mandiri

tabugan haji BSM

tabugan haji BSM

tabungan haji BSM

tabungan haji BSM

Berapapun uang yang anda miliki, tabungkan saja di Bank agar uang anda tidak terpakai untuk kebutuhan lainnya. Nah jika tabungan telah mencapai 25 juta, anda dapat mendaftarkan ke Kementerian Agama untuk mendapatkan SPPH dan Nomor Porsi.

2. Mencari Surat Keterangan Sehat dan Golongan Darah dari Puskesmas

Untuk yang kedua ini sering terabaikan, saya pun berkali-kali ketika mendaftarkan haji sering melewatkan yang satu ini karena biasanya yang perlu melampirkan surat keterangan sehat hanyalah orang yang berusia lebih dari 40 Tahun.

3. Mengisi SPPH di Kantor Kementerian Agama

Pelayanan ini hanya dilayani di Kantor Kementerian Agama Kota atau Kabupaten (bukan di KUA kecamatan). Ketika memasuki Kantor Kementerian Agama, carilah ruangan pendaftaran haji. Di beberapa kota pendaftaran haji bergabung dengan kantor seksi PHU (Penyelenggaraan Haji dan Umrah).

Cukup katakan bahwa anda ingin mendaftar haji, maka anda akan diberi SPPH (Surat Pendaftaran Pergi Haji) dalam bentuk Formulir. Isilah formulis itu sesuai data yang anda miliki, dalam surat itu ada beberapa kolom diantaranya yang dibutuhkan adalah Nomor Rekening Haji, NIK, Golongan Darah dan data lainnya.

Setelah mengisi SPPH kemudian anda akan dipanggil untuk wawancara sekedar mengecek data diri apakah telah sesuai, merekam sidik jari, foto di tempat dan tanda tangan. Petugas Kemenag kemudian akan memberikan SPPH yang tekah diprint sebanyak 3 lembar, berikut adalah contohnya

contoh SPPH

contoh SPPH

4. Pemorsian di Bank

Setelah mendapatkan 3 lembar SPPH, yang anda lakukan selanjutnya adalah pergi ke Bank tempat anda menyetor dengan membawa SPPH tersebut untuk diporsikan. Katakan saja kepada Customer Service bahwa anda ingin memorsikan (mendapatkan nomor porsi) untuk keberangkatan haji anda. Namun sebelumnya pastikan bahwa uang dalam tabungan anda telah mencapai 25 juta rupiah, karena jika kurang dari itu anda belum berhak mendapatkan nomor porsi (nomor porsi adalah nomor antrean). Berikut adalah contoh lembaran Bukti Setoran Awal BPIH.

contoh BPIH

contoh BPIH

5. Melaporkan ke Kantor Kementerian Agama

Setelah mendapatkan nomor porsi dan bukti setoran awal BPIH, langkah terakhir adalah melaporkan kembali ke Kantor Kementerian Agama dengan membawa berkas berikut:

- Bukti setoran awal BPIH (berwarna)

- 1 Lembar SPPH

- Pas foto dengan rincian: berwarna, 80% wajah, pakaian gelap, background putih (tidak berkacamata) = 3×4 (10 lembar), 4×6 (2 lembar)

- FC Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas (4 Lembar)

- FC Akta Kelahiran / Buku Nikah / Ijazah (2 Lembar)

- FC Kartu Keluarga 2 Lembar)

- FC KTP (sesuai dengan domisili)

* ukuran kertas kwarto

 

Setelah itu insya Allah selesailah pendaftaran Haji. Hal yang harus disegerakan adalah Point 1 – 4, adapun selebihnya bisa sedikit ditunda..

Proses dari Point 1, 3, 4 (Nomor 2 bisa diakhirkan) bisa ditempuh dalam sehari. Membuat rekening bisa dalam 1 jam, di Kantor kemenag juga sekitar 2 jam dan selanjutnya untuk pemorsian yang terpenting adalah memasukkan berkas, adapun mengenai keluarnya bukti setoran awal bisa diambil keesokan harinya..

Semua proses ini bisa anda kerjakan sendiri tanpa melalui perantara, semua tahapan ini tidak dikenai biaya (kecuali cetak foto, foto copy, periksa kesehatan) adapun untuk di Bank dan Kantor Kementerian Agama, anda tidak dikenai biaya sedikitpun. Jika anda mendapati pelayanan yang kurang memuaskan atau adanya pemungutan liar oleh sejumlah oknum, anda bisa melaporkannya ke http://www.ombudsman.go.id/index.php/en/pengaduanonline.html

 

Selamat mencoba, dan hati-hati dengan calo baik yang memakai seragam KBIH maupun lainnya. Jangan terpengaruh, sungkan atau pekewuh dengan pembimbing yang belagak menolong proses pengurusan haji anda,, anda tetap berhak memilih KBIH mana yang anda ikuti atau sama sekali tidak mengikuti bimbingan di KBIH.

 

- – – – – -

Rafiq Jauhary

Penulis Buku, Pembimbing Haji dan Umrah bersertifikat Kemenag RI

 

pertanyaan lebih lanjut bisa langsung anda tuliskan pada kolom komentar, melalui email rafiq.jauhary@yahoo.com atau contact@rafiqjauhary.com

- – – – -

Artikel ini terbit disponsori oleh KBIH Al-Ittihaad Kabupaten Magelang 0293 5595975, 0817265591

dan KBIH Uswatun Hasanah Kota Magelang 0293 363233

 

ingin menjadi sponsor? hubungi rafiq.jauhary@yahoo.com

Menuntut Ilmu Bukan untuk Gelar

toga

toga

Pagi hari ini saya sedang merampungkan editing buku yang saya beri judul “Menjadi Muthawif Anda di Tanah Suci”. Ketika tiba pada bab terakhir yakni merapikan Daftar Pustaka, saya agak kesulitan ketika harus memasukkan nama-nama penulis yang sebagian besar telah bergelar Profesor, Doktor atau gelar lainnya yang tak kalah menterang. Namun saya kemudian teringat dengan apa yang disampaikan dosen Bahasa Indonesia saya ketika itu, yakni untuk menuliskan nama dalam daftar pustaka tanpa mencantumkan gelar.

Sesaat saya menjadi agak protes, bagaimana mungkin sekian banyak gelar harus saya lucuti dari para pakar itu. Misalkan Kyai Ali Yafie yang bergelar Profesor Doktor, kemudian juga Muhammad Ilyas dari Pakistan yang juga bergelar Doktor dan sekian puluh nama lainnya yang memiliki gelar berderat. Bukankah melucuti gelar mereka sama artinya dengan tindakan tidak menghormati ilmu?

Namun ternyata tidak. Saya pun berhenti sesaat untuk memikirkan sehingga menemukan kalimat berikut…

Gelar kesarjanaan hingga kini masih menjadi salah satu patokan intelektualitas seseorang.. namun gelar saja tidak cukup, karena kini mendapatkan gelar bukanlah hal yang susah.. nahh, untuk memperkuatnya kini diyakini bahwa Buku / Karya Tulis adalah bukti dari karya intelektual..

tahukah anda, dalam sebuah buku ilmiyah pastilah di halaman paling belakang dicantumkan sebuah daftar pustaka. dan disana diatur penulisan sebuah nama tidak diperkenankan mencantumkan gelar.

lantas untuk apa kuliah sekian lama jika gelar kesarjanaan dalam daftar pustaka (juga dalam penulisan karya ilmiyah) tidak diperkenankan untuk ditulis?

ini mengandung pesan bahwa gelar bukanlah segalanya, namun ilmu yang tertulis didalamnya yang lebih memiliki arti. dalam menulis karya ilmiyah tidak ada perbedaan penilaian antara karya seorang professor dengan seorang lulusan SMA..

semuanya sama, tak heran jika banyak penulis yang lebih senang menuliskan nama pena-nya dibanding dengan nama aslinya. mari kita belajar dari sikap seorang intelek yang rendah diri dan tawadhu’.. seolah mereka ingin mengatakan bahwa gelar (urusan keduniaan) tidak ada artinya dibanding ilmu (investasi menuju akhirat)

citrosono, 05 Januari 2014
rafiqjauhary.com

Tanya Jawab: Pakaian Ihram Perempuan

ihram

Bagi perempuan, tidak ada ketentuan secara khusus seperti apa pakaian ihramnya. Yang terpenting bagi perempuan adalah memakai pakaian yang menutup aurat namun justru tidak diperkenankan memakai penutup wajah dan juga penutup telapak tangan. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:

لَا تَنْتَقِبْ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلَا تَلْبَسْ الْقُفَّازَيْنِ

Wanita yang sedang dalam keadaan berihram supaya tidak memakai niqab (cadar) dan tidak memakai kaos tangan (HR Bukhari 1838)

Yang perlu dicatat dalam masalah aurat bagi perempuan adalah bentuk pakaiannya, tentu memakai rok atau gamis lebih baik dibanding celana yang membentuk anggota badan. Pakaian yang tidak transparan pun termasuk diantara masalah yang perlu diperhatikan, dan satu lagi mengenai pakaian ketat supaya ditinggalkan.

Diantara permasalahan mengenai ihram bagi perempuan ini akan kami bahas secara langsung, agar anda para pembaca tak harus memendam rasa penasaran.

a.   Apakah pakaian ihram bagi perempuan harus berwarna putih?

Tidak, bahkan sebenarnya pakaian putih hanya disunnahkan untuk dipakai laki-laki, bukan perempuan. Bagi perempuan memakai pakaian ihram berwarna hijau, pink, merah atau berwarna-warni tidak terlarang. Namun yang terbaik dalam kondisi ibadah (apalagi dalam keadaan ihram) supaya memakai yang sederhana.

Para ulama memaknai pakaian yang sederhana bukanlah pakaian yang membuka aurat karena kainnya sedikit. Pakaian sederhana tetaplah yang menutup aurat namun tidak banyak menggunakan perpaduan warna, tidak banyak menggunakan pernak-pernik seperti bordir, gambar atau semisalnya. Pakaian yang polos lebih diutamakan.

Termasuk diantara pakaian yang sederhana menurut para ulama adalah yang berwarna gelap. Seperti hitam, biru tua, hijau tua, merah tua atau semisalnya. Bahkan jika kita meninjau dari sisi budaya, di lingkungan Arab Saudi pakaian putih bagi perempuan sering dikatakan sebagai pakaian yang ‘saru’. Mengapa saru? Karena akan menerawang jika terkena cahaya dan juga di Arab Saudi pakaian putih kerap dijadikan pakian dalam dan hanya dipakai di dalam rumah.

b.   Bagaimana cara menutup kaki?

Pakaian seorang wanita baik rok, gamis maupun celana tentu tak dapat menutup seluruh kaki. Maka untuk menutup ujung bawah kaki dibutuhkan kaos kaki. Jika anda belum terbiasa memakainya, hendaknya dari sekarang supaya dibiasakan. Menutup kaki adalah aurat seorang perempuan bukan hanya dalam ihram ataupun shalat saja, melainkan untuk setiap saat.

c.    Bolehkah memakai kain penutup punggung tangan?

Hal ini termasuk diantara permasalahan yang diperselisihkan di masyarakat. Seorang yang meyakini bahwa aurat seorang wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan “kaffun”. Ketika disini kaffun dimaknai hanya ‘perut tangan’ saja dia akan mengatakan bahwa menutup punggung tangan hukumnya wajib. Karenanya dia akan memakai kain penutup punggung tangan dalam shalat dan ihramnya.

Sedangkan sebaliknya seorang yang meyakini bahwa aurat seorang wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan “kaffun” dan disini kaffun dimaknai perut dan punggung tangan, maka dia merasa tidak perlu menutup punggung tangannya kecuali hanya lengan tangan hingga pergelangannya.

Mana diantara kedua pendapat ini yang benar? Allahu a’lam, namun kita harus mengembalikannya kepada Bahasa Arab, dan ternyata disana kaffun lebih sering dimaknai oleh para ulama sebagai perut dan juga punggung tangan. Karenanya kain penutup punggung tangan tidak diperlukan dalam pakaian ihram seorang wanita. Bahkan beberapa ustadz praktisi haji dan umrah kerap menggolongkannya sebagai sesuatu yang menyerupai kaos tangan, padahal kaos tangan dilarang dalam ihram.

Lantas bagaimana? Tanggalkan saja kain penutup punggung tangan dan pakai deker penutup pergelangan tangan agar suatu saat ketika lengan baju terbuka, aurat kita tidak akan tampak di mata orang.

d.   Bolehkah memakai masker?

Memakai masker bagi seorang laki-laki justru tidak terlarang, namun bagi perempuan harus melalui pembahasan terlebih dahulu. Mengapa? Karena masker adalah kain penutup wajah yang menyerupai niqab (cadar).

Untuk membahas ini kita harus melibatkan seorang dokter, andaikan anda seorang sehat yang ‘hanya’ ketakutan terkena debu sehingga memilih untuk memakai masker, hal ini terlarang. Namun berbeda dengan seorang yang sudah dikatakan sakit oleh dokter dan disarankan untuk memakai masker agar sakitnya tidak semakin parah, maka hal ini diperbolehkan.

Jadi kesimpulan akan hal ini masker bagi perempuan hendaknya tidak dipakai, kecuali jika dia benar-benar sakit maka memakai masker mendapatkan pengkhususan.

 

(nantikan pembahasan lengkapnya pada buku Fikih Umrah karya Rafiq Jauhary yang kini sedang disusunnya)

Seruan Nabi Ibrahim Beribadah Haji

unta

unta

Dalam posting kali ini saya akan sedikit menerangkan tentang surat tafsir surat Al-Hajj ayat ke-27 yang berkaitan tentang seruan Nabi Ibrahim kepada ummatnya di seluruh dunia untuk beribadah haji. Mari kita mulai, Allah Ta’ala berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan serulah manusia untuk berhaji, mereka datang dengan berjalan kaki, dan sebagian lagi menunggang unta, mereka datang dari tempat yang jauh”

Tahukah anda, ayat ini dahulu ditujukan kepada Nabi Ibrahim sesaat setelah membangun Ka’bah. Ada yang mengatakan bahwa beliau ketika itu sedang berdiri di atas Maqam (Maqam Ibrahim), ada pula yang mengatakan beliau sedang berada di Bukit Shafa, dan ada pula yang mengatakan ketika itu beliau sedang berada di Jabal Abi Qubais (kini menjadi istana tamu-tamu kerajaan)

Ketika mendapatkan perintah ini, Nabi Ibrahim pun kebingungan, bagaimana cara untuk menyeru (adzan) agar manusia dapat menunaikan ibadah haji? Beliau pun mengeluhkan “Wahai Rabb, bagaimana saya dapat menyerukan sementara suara saya tidak dapat didengar mereka?”

Maka dikatakan (Allah) kepada Ibrahim “Serulah, kami yang akan menyampaikannya”

Nabi Ibrahim pun menyeru, “Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan baitullah, maka tunaikanlah ibadah haji”

Setelah itu, gunung itupun tunduk dan menyebarkan seruan Nabi Ibrahim hingga seluruh manusia mendengarnya. Mereka pun kemudian menjawab “Labbaik allahumma labbaik” (Saya penuhi panggilanmu ya Allah.. Saya penuhi panggilanmu)

- – – – – -

Disarikan dari sebuah buku berjudul Ayaatul Hajji Fil Qur’an karya Syaikh Shalih Al-Maghamisi dan telah dirujuk kembali pada kitab Tafsir Ibnu Katsir

Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia jika Dibanding dengan Malaysia

haji indonesia malaysia

haji indonesia malaysia

Sebagai dua negara serumpun dan bertetangga dekat, sejak dahulu Indonesia dan Malaysia sudah saling bersaing ketat dan kerap dibandingkan satu dengan lainnya, tak terkecuali dengan penyelenggaraan ibadah hajinya. Maka dalam artikel kali ini saya akan mengulas sebuah data yang kami dapatkan resmi dari Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah mengenai penyelenggaraan Ibadah haji Indonesia dibanding Malaysia.

Jangan Khawatir, data yang kami berikan insya Allah valid dan tidak repost. Yuk kita mulai membahas dengan kepala dingin dan fair.

1. Harus diakui, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta jiwa (85,2% beragama Islam) . Sedangkan Malaysia hanya berpenduduk 27 juta jiwa (60,4% beragama Islam). Perbandingannya sangat banyak. Jika mengacu pada hasil keputusan OKI bahwa kuota haji dibagi 1:1000 Populasi Muslim dalam suatu daerah, maka Indonesia mendapatkan 211.000 kuota haji, sedangkan Malaysia hanya 26.000 kuota.

2. Dari data diatas maka tentu kita akan memahami bahwa mengelola jamaah dengan jumlah sedikit lebih mudah dibanding mengelola jamaah dalam jumlah banyak. Maka jika kedua negara sama-sama mendapatkan prestasi ISO 9001-2008, saya tentu lebih memberikan jempol saya kepada Indonesia dibanding Malaysia, sekalipun keduanya tetap saya berikan jempol atas pelayanannya terhadap para tamu Allah. Ini bukan subyektif saya pribadi, namun setidaknya 10 Negara di dunia pun mengakuinya bahkan mempelajari penyelenggaraan Ibadah Haji dari Indonesia.

3. Kemudian dilihat dari segi jumlah biaya (ingat, ini adalah total biaya dihitung direct dan indirect cost) Indonesia terhitung masih lebih murah dibanding Malaysia. Padahal jarak yang ditempuh menuju Arab Saudi, Indonesia masih lebih jauh. Namun perlu diingat, Apartemen dan fasilitas lainnya bagi jamaah Malaysia lebih baik dibanding Indonesua, jadi dalam hal ini saya kira nilainya sama. Tetapi (kalau saya) lebih suka dengan Malaysia yang menaikkan biaya apartemen 2x lipat dari Indonesia mengingat apartemen yang ditinggali jamaah Indonesia masih banyak yang kurang layak. Lebih baik menaikkan anggaran Apartemen dibanding memakai apartemen yang kumuh, toh jamaah juga mampu.

4. Untuk pengelolaan indirect cost (indirect cost adalah uang pengembangan dari titipan jamaah di bank) Malaysia lebih patut mendapatkan acungan jempol. Namun ini bukan tanpa alasan, mereka mendapatkan indirect cost lebih banyak karena jumlah antrean jamaah di Malaysia lebih panjang (26 tahun), sementara di Indonesia saat ini hanya 13 tahun (untuk Jawa Tengah). begitupun dengan kebijakan pengelolaannya. Indonesia dinilai lambat dalam mengelola indirect cost, namun Indonesia memiliki kelebihan yakni ‘lebih aman’, karena uang dimasukkan dalam sukuk dan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara).

Sementara Malaysia (pernah dikatakan oleh staff PHU Kemenag Jateng) kurang aman, dan pernah kecolongan dikarenakan uang yang diinvestasikan ke perkebunan sawit di Sumatera terlambat panen sementara jamaah sudah harus berangkat, sehingga Tabung Haji terpaksa meminjam uang ke Kemenag RI diambilkan dari DAU (Dana Abadi Ummat)

 

* Nah setidaknya ini adalah perbandingan diatas kertas mengenai pengelolaan Ibadah Haji dari kedua Negara Indonesia dan Malaysia. Harapan kita semua tentu dapat lebih baik, tidak hanya bersaing namun juga kedua negara dapat saling bekerjasama agar pelayanan untuk tamu-tamu Allah lebih maksimal.

Oiya, saya juga ingin memesankan (semoga Pak Menteri atau Dirjen PHU membacanya) agar pelayanan dalam hal pembimbingan ibadah lebih ditekankan. Saya mendapati buku Fiqih Haji dari Kemenag RI masih jauh dari kata ‘Ilmiyah”. Banyak Hadits atau pendapat ulama yang tidak memiliki rujukan jelas, sehingga menyulitkan jamaah untuk mengetahui derajat keshahihan hadits dan kebenaran pendapat itu.

Begitupun dengan penyelenggaraan bimbingan di KUA atau Kantor Kemenag setempat yang diisi oleh para pembimbing kurang berpengalaman dan justru lebih banyak diisi dengan candaan atau cerita pribadi. Masak pembimbing sepuh dan berangkat menjalankan haji tahun 90-an mengisi bimbingan lebih dai 40% nya berisi cerita, dan cerita itu sudah out of date.

Mohon maaf, semoga dapat menjadi masukan. Kita semua berharap dapat melecutkan pelayanan. Sebagai Pengurus KBIH, Pengelola Travel Umrah, Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah, juga penulis buku dan artikel Haji dan Umrah saya cukup bangga dengan pelayanan Haji di Indonesia, namun tentu saya belum puas dengan ini semua.. Mari Pak Menteri, bersama-sama kita tingkatkan pelayanan ini.. :)

 

Salam

rafiqjauhary.com

 

:: pertanyaan anda seputar haji dan umrah dapat dialamatkan ke contact@rafiqjauhary.com

Fatwa: Menunda Haji Padahal Dia Mampu

pendaftaran haji

pendaftaran haji

الأخت التي رمزت لاسمها ب. ن . ف . من الدلم تقول في سؤالها: ما حكم من أخر الحج بدون عذر وهو قادر عليه ومستطيع؟

Seorang perempuan berinisial BNF dari Kota Ad-Dalam (salah satu kota di Arab Saudi, 20 kilometer dari Riyadh) berkata dalam pertanyaannya: “Apa hukum bagi orang yang menunda Haji tanpa adanya udzur padahal dia mampu?

Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baaz menjawab:

من قدر على الحج ولم يحج الفريضة وأخره لغير عذر، فقد أتى منكراً عظيماً ومعصية كبيرة، فالواجب عليه التوبة إلى الله من ذلك والبدار بالحج؛ لقول الله سبحانه: وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت)) متفق على صحته، ولقوله صلى الله عليه وسلم، لما سأله جبرائيل عليه السلام عن الإسلام، قال: ((أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة ، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً)) أخرجه مسلم في صحيحه، من حديث عمر بن الخطاب رضي الله عنه. والله ولي التوفيق.

Barangsiapa mampu melakukan ibadah Haji sedangkan dia tidak kunjung mengerjakannya bahkan menundanya tanpa ada udzur, maka dia telah mendatangi suatu kemunkaran dan kemaksiatan yang besar. Maka diwajibkan baginya untuk bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut dan supaya menyegerakan beribadah Haji, sebagaimana Firman Allah: “Dan telah Allah wajibkan atas manusia beribadah Haji di Baitullah bagi siapa saja yang mampu dalam menempuhnya. dan barang siapa yang kufur (mengingkarinya) sesungguhnya Allah Maha kaya atas semesta alam.”. Rasulullah bersabda: “Telah ditegakkan Islam atas lima perkara: 1. Persaksian bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali hanya Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, 2. Pendirian Shalat, 3. Penunaian Zakat, 4. Puasa Ramadhan, 5. Haji di Baitullah” Keshahihan hadits ini telah disepakati.

Rasulullah juga bersabda di saat ditanya oleh Jibril ‘alaihis salam tentang Islam, beliau bersabda: “Agar bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah,  dan Muhammad adalah Rasulullah, dan agar mendirikan Shalat, dan agar menunaikan Zakat, dan agar Puasa Ramadhan, dan agar Haji di Baitullah andaikan engkau mampu dalam menjalankannya.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, dari Umar bin Khattab -semoga Allah Ridha atasnya. wallahu waliyut taufiq.

diterjemahkan dari http://www.binbaz.org.sa/mat/646

Dari Fatwa tersebut dapat kita simpulkan bahwa ibadah Haji hendaknya dikerjakan dengan segera, namun melihat antrean haji saat ini di Indonesia dan beberapa negara seperti malaysia yang begitu panjang, perlu diadakan kajian lebih lanjut, Namun poin yang tetap kita ambil adalah Ibadah Haji hendaknya disegerakan, diantara bentuk usaha kita dalam menyegerakan adalah dengan mendaftar agar mendapatkan nomor porsi antrean kuota.

pembahasan lebih lanjut bisa anda simak pada link berikut http://rafiqjauhary.com/2013/07/17/tidak-mendapat-kuota-haji/

Beberapa Modus Penipuan Haji Regular

Bismillah, sebenarnya artikel ini saya mulai menulisnya dalam kelas ketika dosen sedang mengajar, namun karena penjelasannya kurang menyenangkan (dari pada bengong, atau dari pada ketularan teman-teman saya yang ngantuk) saya kira lebih asyik jika nyambi nulis satu artikel, hehehe… (tentu pak dosan pun lebih senang, karena mengira saya sedang menulis pelajarannya di laptop, padahal…)

haji

haji

Begini, banyak sekali aduan dan cerita saya dengar dari teman-teman dan para jamaah mengenai penipuan dengan  modus ibadah haji dan umrah. Ini sungguh sangat disayangkan, bagaimana mungkin suatu ibadah dijadikan sebuah modus penipuan, dan polanya pun relatif sama, sementara aparat seolah tidak tanggap akan hal ini. Itulah yang menggerakkan saya untuk menuliskan tulisan ini.

Berikut diantara modus penipuan dalam dunia haji dan umrah, silakan diperhatikan:

1. Mempercepat Porsi Antrean Haji Regular

Perlu anda ketahui, setiap orang memiliki keinginan yang sama seperti anda untuk menjalankan ibadah haji dalam waktu sesegera mungkin. Setiap orang ingin beribadah haji tidak melalui antrean, dan banyak orang rela membayar berapapun untuk dapat beribadah haji secepat mungkin.

Untuk memfasilitasi itu semua akhirnya didirikanlah SISKOHAT (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu), sistem ini pula lah yang dapat mencegah terjadinya tindakan penyuapan dan modus lainnya untuk mempercepat keberangkatan seorang jamaah haji. Seorang jamaah yang telah mendaftar akan mendapatkan nomor porsi, nomor itu pula lah yang dikelola oleh komputer. Tidak ada yang dapat mengubahnya tanpa ada ijin dari berbagai pihak yang berwenang.

Pengajuan porsi saat ini bukanlah mainan yang dapat diajukan sekenanya (sepertinya dahulu memang bisa diusahakan), sistem ini diawasi oleh beberapa lembaga independen termasuk diantaranya adalah KPK. perlu anda ketahui, Inspektur Jendeal Kementerian Agama saat ini (M Yasin) adalah mantan pimpinan KPK dan hingga kini masih memiliki kedekatan hubungan untuk mengawasi segala hal yang berhubungan dengan Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan praktik haram lainnya. Dirjen Haji pun (Anggito Abimanyu) berasal dari Kementerian Keuangan yang sangat memperhatikan masalah seperti ini.

karenanya jika ada seorang yang mengaku dapat memajukan porsi haji regular milik anda (terlebih dengan meminta sejumlah imbalan), anda dapat langsung MENOLAK-nya… waspadai ini adalah penipuan. karena mengajukan porsi hampir dapat dikatakan MUSTAHIL.. kalau anda berani, anda pun dapat melaporkannya kepada pihak berwajib

*pengajuan porsi sementara ini hanya diperbolehkan karena usia lanjut atau kemahraman saja. dan seorang yang diajukan karena usia lanjut pun tidak dipungut biaya sedikitpun. jangan mau dimintai duit!

2. Mengganti Porsi Haji Seorang yang Meninggal atau Mengundurkan Diri

Dalam SISKOHAT tidak diperkenankan seorang yang meninggal atau mengundurkan diri untuk diganti oleh keluarganya atau orang lain. Seorang yang meninggal atau mengundurkan diri hanya dapat menarik kembali uang yang telah disetorkan, adapun porsinya tidak dapat diganti. Seperti itulah sistem yang telah dibangun.

Bukan bermaksud mempersulit, namun jika diperbolehkan untuk diganti maka dikhawatirkan kelak akan muncul Makelar Haji. Banyak orang yang mendaftarkan haji, kemudian menjual porsinya kepada orang lain dengan biaya beberapa kali lipat.

Maka jika ada orang yang menawarkan anda berangkat ibadah haji dengan alasan ‘menggantikan seorang yang meninggal atau mengundurkan diri’, anda dapat langsung MENOLAK-nya

Para penipu seperti ini rata-rata justru didominasi oleh ‘oknum’ pembimbing KBIH, alih-alih karena namanys udah cukup dikenal di daerahnya sebagai pembimbing haji senior, dia pun bisa sekenanya dalam berkata, sementara para jamaah pun mempercayainya tanpa ada yang meragukan kredibilitas beliau..

—–

** nantikan artikel lainnya tentang modus penipuan dalam haji khusus / haji plus dan juga modus penipuan dalam umrah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.248 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: