maaf, jika aku tak pandai menyampaikan rasa sayangku


hati
hati

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

katakanlah, “jika kamu sembunyikan atau kamu nyatakan, apa yang ada dalam hatimu, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang apa di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

mengikuti kaedah pentafsiran yang dipakai oleh syaikh muhammad ibnu sholih al-‘utsaimin, beliau selalu mengakhiri disetiap menafsirkan ayat dengan beberapa fawaid (faedah-faedah). termasuk dalam ayat yang saya sitirkan diatas, akan saya ambil sebuah faedah dari potongan “maa fii shuduurikum”.

maa fii shuduurikum (apa yang ada dalam dadamu). dan au tubduuhu (atau yang kau tampakkan). dua kalimat ini tersusun dalam sepenggal ayat dari surat ali-imron: 29.

dari dua kalimat itu dapat kita simpulkan bahwa sesuatu pada manusia itu terbagi menjadi dua, ada yang tampak, dan ada pula yang tak tampak. suatu yang tampak adalah seperti yang dapat terlihat, terdengar, terraba, tercium. adapun yang tak tampak adalah sesuatu yang terpendam dalam pikiran dan hati manusia.

.

dua hal ini tak sama, maka ada istilah dalam iklan mie sedaap “lidah bisa boong, tapi rasa gak bisa boong“. ini menunjukkan bahwasannya apa yang kita cerna dalam otak dan hati kita, belum tentu akan kita ekspresikan layaknya perasaan kita. bisa disebabkan karena kebohongan kita, juga bisa karena ketidak mampuan kita.

sebagai contoh, kasih sayang seorang bapak kepada anaknya yang tak terukur. suatu hari ketika kelaparan melanda keluarga itu sang bapak akan memberikan perhatian penuh kepada anak. jika mendapatkan makanan, bapak akan memberikan semuanya kepada buah hatinya; namunketika anak itu bertanaya “bapak nggak lapar..??”. dengan mengembangkan senyumnya, pasti bapak akan menjawabnya “makan aja sayaang, bapak nggak lapar kok”, padahal apa yang dia rasakan adalah perih di perutnya.

perkataan itu terlontar bukan karena sang bapak ingin membohongi anaknya, namun karena sang bapak tak mampu untuk mengatakan, karena khawatir mengganggu kenyamanan anaknya.

contoh lain, karena ingin berbohong seorang bapak berkata kepada anaknya, “kalo ada pak lurah kesini ngajak kerja bakti, bilang aja bapak lagi gak enak badan”. ini adalah contoh kebohongan, padahal dia tidak merasakan ada gangguan dalam tubuhnya, hanya karena malas sang bapak berbohong.

menyampaikan sayang

beberapa hari yang lalu, sempat saya menonton sebuah film dimana cuplikan dalam cerita itu sang ayah berkata kepada anaknya perempuan “maafkan bapak nduun, bapak memang tak pandai menyampaikan rasa sayang ke kamu… tapi bapak sayang kamu…”

saudaraku, tak ada orang tua yang menghendaki keburukan untuk anaknya, jika kita amati pasti dalam hatinya terpendam rasa sayang yang berlebih kepada si buah hati. namun, bapak bukanlah pemain sinetron yang pandai berakting sehingga mudah baginya berkata dan berbuat untuk mengungkapkan isi hatinya.

pasti pernah kita dapati seorang bapak melarang anaknya bermainan air ketika hujan, ini bukan menandakan sang bapak tak ingin anaknya senang. tapi justru karena rasa sayangnya lah sang bapak tak ingin anaknya sakit. atau dalam masalah lain orang tua akan menjadi keras kepala. misalkan seorang bapak yang berpendidikan rendah akan mati-matian melarang anaknya pergi kuliah ke jepang, karena setau dia jepang adalah penjajah yang keji sehingga dia tak ingin anaknya disiksa. atau kasus lain seperti dalam film nagabonar jadi dua.

:: maaf tulisan ini masih awut-awutan, saya hanya ingin posting blog ini secepat mungkin untuk sebuah nasehat. semoga pesan yang terkandung didalamnya dapat mudah dimengerti, bahwa tindakan yang terjadi pada diri seseorang (terutama orang tua) bukanlah mesti menandakan seperti itu isi hatinya. karena ada tiga faktor yang mempengaruhinya:

  • pertama, karena ketidakmampuan untuk mengekspresikan apa yang dirasakan
  • kedua, murni karena kebohongan pelaku
  • ketiga, karena kesalahan orang kedua dalam memahami maksud perbuatan itu.

Allahu a’lam bishshowab

Iklan

2 Replies to “maaf, jika aku tak pandai menyampaikan rasa sayangku”

  1. wahhh so sweet ya…
    ya emang gak semua orang bisa menyampaikan rasa sayang dengan tujuan berbeda-beda…
    kalau dipikir neg semua orang bisa menyampaikan yang sesuai hatinya ya bubrah lah dunia, ya nggak…??!!
    ntar kaya anak sama bapaknya di tulisan atas, klo bapaknya jujur ya pasti ga bakal qolu mangan anake… hehehe ya istilah si anak jadi salting mau maem, neg maem bapake kok melas tapi neg dia gak maem kok dia sing laper… hehehe…
    haduhh maaf ya banyak komennya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s