pembelaan seorang bapak kepada anaknya (kisah nabi nuh)


Panjang lebar Al-Qur’an menjelaskan tragedi luar biasa yang terjadi pada masa Nabi Nuh ‘alaihissalam (QS Hud: 36-49). Ayat ini diawali dengan sebuah wahyu yang memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk membuat sebuah perahu; tidak mengherakan ketika itu beliau menjadi bahan tertawaan karena membuat perahu untuk ditungganginya diatas daratan. kejadian inilah yang mengangkat beliau dengan gelar “bapak manusia kedua” karena jasanya menyelamatkan manusia dari ancaman kepunahan akibat banjir.

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45) قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk dari keluargaku, dan janjiMu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil. Dia (Allah) berfirman, “wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu engkau jangan memohon kepadaKu sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh (QS Hud: 45-46)

Ayat diatas adalah ayat ke-45 dan 46 dari surat hud, merupakan sepenggal dari barisan ayat yang mengkisahkan kejadian banjir pada masa Nabi Nuh. dan juga tentang kasih sayang, duka serta curhat seorang bapak terhadap apa yang menimpa pada anaknya

anak adalah bagian dari bapaknya

Tidak berlebihan kiranya mengapa sebagian ulama sampai berpendapat bahwa ketika seorang bapak membunuh anaknya, tidak akan dikenakan baginya qishosh. Itulah karena anak adalah bagian dari bapak, dan status kepemilikannya pun, bapaklah yang memiliki si anak dan berhak menjadi wali terhadap anaknya dalam beberapa permasalahan.

Al-Quran banyak menyebutkan, bahwa manusia diciptakan dari nuthfah (sperma), dan laki-laki (bapak) lah yang memiliki nuthfah tersebut. Fakta ini tak terbantahkan; semua mengakuinya. sehingga dalam penamaannya seorang anak akan dinisbatkan kepada bapak, bukan ibunya. misalkan nama saya Rafiq, dan bapak saya Jauhari; maka dalam penamaannya pun akan menjadi Rafiq bin Jauhari

klaim bapak terhadap anaknya

Sebagai buah hati, seorang anak tidak akan terlepas hubungannya dengan sang bapak. Berbeda dengan hubungan suami istri, yang jika perceraian terjadi maka laki-laki dan perempuan tersebut tidak akan ada lagi hubungan. Namun pada anak, tidak bisa anak bercerai dengan (nasab) bapaknya, walaupun salah satu diantaranya kafir.

Seperti inilah yang terjadi pada Nabiyullah Nuh (as). Hidayah Allah tidak sampai kepada anak kesayangannya, sehingga apa yang beliau perbuat tidak digubris oleh sang anak (Kan’an -tafsir fi dzilalil qur’an).

Permohonan yang dipanjatkan oleh beliau “wahai tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk dari keluargaku…” tertolak dengan firman Allah “wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu…”

Seorang ustadz menuturkan kepada saya, “coba kamu bayangkan, betapa tersinggungnya seorang bapak yang dicandai temannya ‘anake sopoo kae’ (anaknya sapa sih tuh)…” padahal teman-temannya tahu bahwasannya dia adalah anak dari lawan bicaranya tersebut. Kemudian ustadz tersebut meneruskan “lalu bagaimana dengan Nabi Nuh ketika itu, betapa sedihnya beliau ketika Allah mengatakan bahwa Kan’an bukan bagian keluarganya?? Padahal jelas sekali bahwasanya Kan’an adalah anaknya”

Inilah sebuah kasih sayang. hubungan erat antara bapak dengan buah hatinya, darah dagingnya, keturunannya, seorang yang diharapkan dapat menjadi penghias matanya dan memberikan pahala mengalir dari doa anak yang sholih.

Namun hidayah terlalu mahal untuk dibeli, bahkan Nabi Nuh pun tak sanggup membelikan untuk buah hatinya, Kan’an.

kesimpulan

Dua potong ayat tersebut adalah pelajaran luar biasa; yaitu hubungan ke-rohim-an bapak dengan anaknya yang berbenturan dengan keimanan. Namun tetap tak bisa ditutup-tutupi, kasih sayang bapak pasti akan tampak. Dalam permasalahan keimanan, Nabi Nuh memberikan contoh untuk tetap bersikap tegas.

faidah-faidah QS Hud: 45-46

  1. وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ : Allah-lah tempat mengadu; seperti juga seorang bapak (Nabi Nuh) mengadu kepada Allah akan anaknya yang kufur.
  2. رَبَّ : Robb; Tauhid Rububiyah. Nabi Nuh mengakui bahwasannya hanya Allah-lah yang menciptakan, mengatur, menjaga, memelihara dan memiliki anaknya (kan’an). maka kepadaNya lah sepantasnya kita mengadu.
  3. إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي : sebuah penegasan bahwa sesungguhnya seorang anak itu bagian dari keluarga bapaknya, yang sesungguhnya segala kontrolnya dibawah kendali bapak (selama masih dalam Islam)
  4. إِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ: janji Allah itu pasti benar. kuat sekali, dalam firmannya pun Allah tak akan mengingkari, terlebih dalam janjiNya.
  5. أَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ : Allah adalah sebaik-baik hakim yang memutuskan perkara.

penjelasan ayat 45…

Janji Allah itu pasti benar, yaitu janji bahwasannya keputusan yang terjadi adalah keputusan terbaik. Karena Allah adalah sebaik-baik hakim yang memberi keputusan. Segala keputusan. Termasuk keputusan mengenai apa yang akan Allah berikan kepada anak yang tidak menjawab seruan kebenaran dari bapaknya.

Tapi, sekali lagi. Kasih sayang bapak tidak akan hilang walaupun anaknya itu membangkang, maka bapak yang baik akan mengembalikan permasalahn kepada Robbnya, karena Dia-lah yang maha atas segala sesuatu.

  1. إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ : jawaban Robb atas hambanya yang mengadu. Benar, anak memang bagian dari keluarga bapaknya dari sisi nasab. Namun Allah (sebaik-baik hakim) telah memutuskan bahwasannya jika anak telah durhaka kepada orang tua yang menasehati terhadap kebaikan; maka dia bukan lagi dianggap sebagai keluarga dalam tinjauan Islam.
  2. إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ : sesungguhnya amalannya tidak sholih, inilah alasannya. lawan dari sholih adalah fasad (rusak). yang sholih adalah ketaatan terhadap Islam, sedangkan yang fasad adalah yang menentang Islam. maka jika seorang telah fasad, dia tidak lagi masuk dalam keluarga orang yang sholih.
  3. فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ : ketika seorang telah fasad (kufur), maka dilarang dipanjatkan untuknya doa. Inilah bagian dari hukum Islam terhadap orang yang menentang haq. seorang yang mengkufuri syariat haram didoakan, dimintakan baginya surga.
  4. مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ : manusia bukan maha tahu, maka jika kita tidak mengetahui terhadap sesuatu jangan berlagak sok tahu. karena hanya Allah yang maha tahu. sehingga firman yang Allah sampaikan jangan kita bantah, karena Allah pasti lebih tahu hakikatnya.
  5. إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ : disyariatkan bagi kita untuk berdoa agar kita dilindungi dari kebodohan, yaitu berlagak sok pintar. karena sesungguhnya ilmu (pengetahuan) adalah milik Allah. Allahumma ‘allimna ‘uluman yanfa’una fid dunya wafi ‘uqba minal kitabi was sunnah

penjelasan ayat 46…

Selain Allah itu sebaik-baik hakim, Dia juga maha terhadap ilmu pengetahuan. maka sikap kita terhadap pengetahuan adalah jangan sok tahu, karena Allah-lah yang berhak berbuat demikian. Termasuk dalam kasus Nabi Nuh dan anaknya ini, Allah memutuskan untuk mengeluarkan anak yang fasad (kufur) dari kekeluargaan, jangan kita sok tahu dan membantahnya; karena Allah maha tahu mengapa justru keputusan seperti itu yang diambil.

allahu a’lam bish showab

Iklan

7 Replies to “pembelaan seorang bapak kepada anaknya (kisah nabi nuh)”

  1. begini pak rofiq intinya namanya tuhan tidak bisa kita lawan. ketaattan manusia terhadap tuhannya adalah ketaatan yang full.islam sudah sempurna mana yang harus dibela kapan bagaimana lengkap.nabi nuh kan belum membaca qur an jadi belum tahu aturan222 itu maklum saja.orang tidak tahu ya dimaafffkan. iya khan pak rofiq?

    1. kita menteladani nabi nuh,, bukan menyalahkan nabi nuh… komentar anda membingungkan…
      laen kali kalo komentar tolong bisa dipahami dulu tulisannya, sehingga kita tidak kebingungan

      oiya, iklan anda kami hapus… web ini tidak untuk memasarkan produk

  2. Kajian tentang hubungan kasih sayang Bapak dengan hidayah untuk Anak ? Dalam konteks yang berbeda bahwa keimanan anak itu tanggung jawab Bapak . Sedangkan dalam konteks Nabi Nuh sepertinya beliau tidak bersalah . Gimana tentang hal ini ?

    1. setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri,, tidak bisa keimanan anak dibebankan kepada orang tua…
      kewajiban orang tua hanyalah mengajak anak kepada kebenaran, adapun hasilnya Allah yang menentukan.. begitupun dengan hidayah…

      hidayah dibagi menjadi dua, hidayah irsyad dan taufiq,,

      dalam memberikan hidayah irsyad (ilmu pengetahuan) orang tua berkewajiban untuk memberikan irsyad kebada anaknya,, menjelaskan mana yang haq dan mana yang bathil

      namun dalam hidayah taufiq, atau menggerakkan hati. hanya Allah yang mampu.

  3. bagaimana bila suatu keluarga mengalami perceraian seorang bapak tidak menafkahi anak anak nya apakah masih berhak dia sebagai bapak..apakah berdosa bila seorang ibu nya memberi tahukan kepada anaknya bila anaknya kelak dewasa..

    1. ya, pasti dia tetap sebagai bapaknya.. secara nasab pun seorang anak tak akan terpisah dari bapaknya, walupun bapaknya seorang kafir sekalipun… adapun dosa atau tidaknya Allah yang tahu,, dan bagaimana bijaknya tentu ibu itu sendiri yang tahu bagaimana yang terbaik, apakah si anak diberi tahu, ataukah tidak… krn setiap yang sama, penanganannya tidak mesti sama, ibu itu yang lebih mengerti.. semoga Allah menyayangi keluarga tersebut dan mengumpulkannya di surgaNya kelak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s