muthowi’ khorban


saya berdua dalam kamar kontrakan dengan seorang teman, dia mahasiswa pasca sarjana ummul quro university. waktu itu kami tengah menanti masuknya waktu sholat ashar, sambil bersantai-santai kami membicarakan dua orang mu’adzin masjid kami (masjid syaikh abdullah mani’). keduanya memiliki suara yang khas, satu orang dia mahsiswa di kuliah ushuluddin yang memiliki suara cempreng, dan satu lagi seorang sudan yang kesehariannya bekerja sebagai penjaga apartemen. adzannya panjang, tapi datar tak bergelombang. hihihi 😀

obrolan kami semakin menarik, teman saya yang telah 9 tahun tinggal di makkah ini menuturkan kisah menggelikan yang dia tontonnya sendiri. muadzin sudan yang tengah kami bicarakan ini adalah seorang yang sangat pemberani, omongannya lantang tanpa tedeng aling-aling, seperti itu teman saya mengkisahkan.

suatu saat sang muadzin sedang jajan di sebuah warung yang menjual tho’miyah (makanan khas mesir, yaitu roti yang berisi sayur-sayuran). selain dia, dalam warung itu juga ada beberapa orang, diantaranya teman saya dan juga seorang muthowwi’* saudi. dalam waktu senggang yang dimiliki, si muthowwi’ tersebut mengkisahkan penderitaan muslim palestina dan menasehati si muadzin sudan untuk turut berbelas kasih pada sesama muslim, nasehatnya panjang lebar, dan sebenarnya sudah sering kita dengar dan cukup membosankan.

nasehat itu yang awalnya berlangsung penuh damai dan menyejukkan, seketika memanas. si sudan tersebut spontan mengatakan “muthowi’ khorban”, dan kemudian balik menantang si muthowi’ tadi. si muadzin sudan itu membalas dengan tantangan yang maknanya setidaknya demikian “kamu tuh bisanya ngomong aja, kelamaan. yuk skarang sama aku berangkat ke palestina, buruan.. tampangmu aja keliatan alim, tapi kalo diajak membela muslim, kamu gak berani…” kata si sudan sambil menaikkan suaranya. kemudian si muthowi’ itu diam dan warung kembali sunyi.

teman saya yang ketika itu ikut menyaksikan kejadian itu menambahkan, memang si sudan keliatannya sedang capek, sedangkan si muthowi’ berkata terus seolah tanpa melihat kondisi muadzin sudan itu yang sedang lelah.

temans, dari kejadian pendek itu mari kita ambil beberapa point yang dapat kita petik pelajarannya

  1. nasehat-menasehati adalah sebuah syariat, dan setiap muslim memiliki hak untuk dinasehati.
  2. hendaknya dalam menasehati tetap melihat adab, cara, situasi dan kondisi, agar kemungkinan buruk akan kecil terjadi.
  3. terhadap sesama muslim kita diwajibkan untuk peduli, tidak boleh acuh terhadapn kondisi saudara muslim kita.
  4. jangan berkata sesuatu yang kamu sendiri tidak menjalaninya, dosa besar bagi siapa saja yang melakukan demikian.

kisah ini saya kira juga bisa menjadi teguran untuk sebagian kalangan yang terlihat seolah-olah simpati dengan para mujahid, namun di balik hatinya sifat kemunafikan masih tertanam. tak berbeda dengan munafiqin di masa nabi MUhammad berada di makkah zaman dahulu. ketika Allah belum memerintahkan jihad mereka banyak berkata “mari kita berperang”, sedangkan ketika Allah telah memberikan syariat berjihad, seribu alasan mereka keluarkan untuk membela diri. na’udzubillahi min dzalik

———————————————————-

*muthowi’ artinya orang yang ta’at, namun istilah ini di arab saudi banyak dipakai untuk orang yang berjenggot. hampir setiap orang berjenggot dipanggil muthowi’ (orang yang ta’at), maksudnya adalah tanda dia taat kepada rosul salah satunya ditampakkan melalui jenggotnya. karena orang yang tidak taat akan memotong jenggotnya.

Iklan

2 Replies to “muthowi’ khorban”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s