yang perlu anda waspadai wahai penduduk desa (bagian 1)


Oleh: Rafiq Jauhary

 

Alhamdulillah, puji dan syukur terus kita haturkan pada Dzat yang telah memberi kita kesempatan beribadah di bulan yang penuh barokah ini. Dzat yang mengutus Muhammad putra Abdullah sebagai Rasulullah pemberi suri tauladan yang mulia, semoga kebaikan dan keselamatan diberikan pada beliau, keluarga dan para pengikutnya.

 

Romadhon benar memberikan manfaat besar bagi ummat Islam. Pada bulan yang sangat mulia ini keutamaan bukan hanya berhenti pada teori yang dipaparkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Al-Hadits dan kitab para ulama saja. Keutamaan bulan Romadhon pun dirasakan oleh para pedagang yang jauh sebelum tiba saatnya sudah gemar berdoa “semoga kelak pada bulan Romadhon daganganku laris, sehingga dapat menyisakan bagiku harta untuk shodaqoh”. Begitupun dengan para pegawai, tidak kalah dengan para pedagang mereka pun berdoa “semoga THR di bulan Romadhon nanti cukup untuk menafkahi keluarga dan berbagi dengan kerabat”.

 

Bagi anak-anak pun romadhon dijadikannya sebagai ajang berlomba dalam ibadah, mereka berkata “ayah, kalau nanti adik puasanya penuh, adik dikasih hadiah ya”. Dengan seperti ini lah ibadahnya dapat menjadi lebih giat dan diantara teman-temannya mereka saling bekerja sama sehingga dapat melewati bulan romadhon dengan suka dan tawa.

 

Dibalik itu semua, para orang tua dengan tibanya bulan romadhon sontak hatinya gembira penuh harap. Anak dan cucunya yang telah bertahun-tahun merantau ke kota akan pulang sebentar lagi saat idul fitri menjelang. Kebersamaan dan silaturohim itulah yang ditunggu, bukan sebatas oleh-oleh yang tentu tak seberapa.

 

Namun tanpa disadari, musibah mengancam penduduk desa disetiap romadhon usai. Kedatangan para perantau sedikit menjadikan masyarakat tidak nyaman.

 

Kebanyakan diantara perantau adalah orang yang keluar dari desa dengan tujuan tertentu. Diantara mereka ada yang berpindah dengan alasan dinas, mencari keberuntungan di kota, menuntut ilmu atau alasan yang lainnya, itu semua insya Allah baik. Namun suatu hal yang secara otomatis ada ketika kepergiannya adalah “hilangnya kepedulian bermasyarakat”.

 

Sebelumnya yang perlu kita sadari dalam kepergian para perantau mereka masih mengatakan bahwa mereka adalah penduduk suatu desa, namun ketika desanya dirundung suatu masalah pelik, perantau pun diam dan tidak ikut meredam permasalahan. Begitupun ketika gotong-royong digerakkan karena akses desa terputus disebabkan jembatan rubuh (misalkan), perantau pun masih terdiam dengan aktifitasnya di kota yang terbiasa cuek. Atau saat acara pengajian diadakan, ketika para penduduk yang sebelumnya membentuk panitia, sibuk mempersiapkan, menata masjid dan menghimpun dana. Lagi-lagi perantau tidak terlibat.

 

Namun berbeda begitu tiba saatnya mereka pulang kampung. Bak seorang artis ibu kota, rambut yang telah dicat pirang, kaca mata pun siap menemaninya berkeliling desa. Sebuah handphone berkamera dijadikannya sebagai alat untuk mengabadikan momen yang berharga baginya. Dia berjalan ke pematang sawah, saat melihat seorang nenek kesulitan membawa rumput yang diambilnya untuk makanan ternak, si perantau mendekatinya. Bukan membantu, namun ternyata dia mendekat hanya untuk mengambil gambar, sebuah foto yang kelak ketika balik ke kota akan ditunjukkan kepada teman-temannya sebagai ajang bercerita. cerita seorang nenek yang keberatan membawa rumput, dan ini akan menjadikan tawa yang meriah diantara mereka.

 

Namun, dimana musibah yang saya maksudkan dalam tulisan diatas?.

 

Untuk anda para penduduk desa. Silakan cermati desa-desa disekitar anda dari tahun ke tahun apa yang terjadi, terutama berkaitan dengan kepulangan para perantau. Anda akan dapat membuat hipotesis, yakni sebuah krisis akhlaq yang kian merosot.

 

Akhlaq sebuah desa yang semula terdidik dengan baik mulai tercemar dengan kedatangan para perantau dari kota. Bukan membawa ajaran baik dari pendidikan di kota, justu kedatangannya membawa kebudayaan yang menjadikan kasak-kusuk para tetangga.

 

1. Berlagak sombong

Mobil (rentalannya) yang diparkir di depan rumah ketika suatu saat dipegang seorang anak kecil membuatnya naik darah, telinga anak kecil itu dijewer sambil dikatai “ndeso banget tho, koyo ra tau weroh mobil wae” (kampungan banget sih, kaya nggak pernah lihat mobil aaja). Atau “hei, tangan yu nih kotor. Kalo yu pake buat pegang mobil ai, nanti lecet. Tauu??”

 

2. Memberikan contoh buruk dalam berbusana

Celana jeansnya disobek-sobek, mamakai kaos dengan gambar kotor atau bahkan dengan bangganya memakai kaca mata hitam saat berbicara dengan para sesepuh desa.

 

3. Mengenalkan dengan ajaran jahiliyah

Hampir pada setiap desa pak kyai memiliki peranan besar dalam mendidik akhlaq masyarakat. Mulai memakai sandal, dengan sabar seorang kyai mengajarkannya agar memakainya dari sebelah kanan, dan melepasnya dari sebelah kiri. Atau mengajarkan agar menggunakan waktu luang untuk membaca al-quran atau mendengarkan bacaan al-quran. Namun ajaran ini dirusak dengan ajaran yang berseberangan. Tidak hanya perantau dari kalangan para pekerja, bahkan pelajar dan mahasiswa pun dengan bangganya pulang memamerkan kemahirannya memetik gitar, atau koleksi lagu dalam laptop yang menumpuk.

 

Sebagai penutup, tulisan ini saya susun bukan bermaksud untuk memojokkan para perantau. Namun justru sebagai tantangan bagi mereka, jika memang masih peduli dengan desanya, maka berikanlah yang bermanfaat. Seandainya kalian memang kaya, infaqkan hartamu di jalan Allah. Atau seandainya keahlian yang anda miliki, maka gunakanlah keahlianmu untuk mendidik penduduk desamu.

 

anda yang pandai menjahit, ajarkan teman-teman desamu cara menjahit. anda yang ahli mengoperasikan mesin foto kopi, ajarkan teman-temanmu mengoperasikan mesin foto kopi. atau bahkan mengajaknya untuk membuka usaha bersama.

 

“barang siapa mengajarkan ajaran kebaikan, maka baginya pahala layaknya pahala orang (murid) yang mengerjakan kebaikan itu. Dan barang siapa mengajarkan kejelekan, maka baginya dosa layaknya dosa orang (murid) yang mengerjakan kejelekan itu.” (hadits shohih)

Iklan

2 Replies to “yang perlu anda waspadai wahai penduduk desa (bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s