cita-citaku dulu


Gambar

Bismillah, saya memulai tulisan ungkapan syukur ini dengan asma Alloh yang dariNya sesgala sesuatu bermula, Dan karenanya segala sesuatu pun dapat berakhir.

Layaknya anak-anak, saya pun memiliki mimpi. Sejak tahun-tahun pertama mengenyam bangku kelas guru-guru saya kerap bertanya akan sebuah cita-cita, sebuah pertanyaan yang mungkin bagi sebagian orang dianggap hanyalah pertanyaan tak bermakna, karena pertanyaan ini boleh dijawab dengan jawaban apapun sekenanya, bahkan boleh dijawab dengan beberapa jawaban, atau malah satu jawaban yang selalu berbeda jawabannya setiap pertanyaan ini terlontar.

pertanyaan ini berbeda dengan sebuah soal dalam ujian yang ketika salah dalam menjawab, maka nilai tak akan didapat, atau bahkan bisa berkurang. pertanyaan ini juga berbeda dengan apa yang kerap dilontarkan guru kelas saya ketika Madrasah Ibtidaiyah (MI atau setingkat SD), yang ketika seorang murid salah dalam menjawabnya dia akan diakhirkan dalam meninggalkan kelas saat waktu belajar mengajar usai di siang hari.

sejak kecil, pertanyaan tentang sebuah cita-cita cukup menarik, dan saya berusaha untuk menjawabnya sejujur mungkin dan seserius mungkin.

dan tahukah kalian, apa yang saya cita-citakan? ahahaha, saat itu saya bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. ya, dokter. berbeda dengan teman-teman saya yang ingin menjadi polisi, tentara, astronot atau presiden.

yang ada di benak saya ketika itu, mengapa memilih menjadi seorang dokter adalah agar dapat seperti saudara saya ketika itu “mbak nida” yang kerap dibanggakan dihadapan keluarga karena prestasinya yang baik sebagai seorang dokter.

seingat saya, jawaban ini terus saya genggam erat sejak pertama kali ditanyakan oleh guru kelas saya Pak Soim (guru kelas 2 MI) dan bertahan hampir selama 9 tahun hingga menginjak kelas 2 Madrasah Aliyah.

lucu memang, terutama teman-teman yang mengenal dekat tentang saya dia akan tertawa begitu mendengar keterangan ini. seorang bernama iqdam yang tidak menonjol di setiap pelajaran eksak memiliki cita-cita seperti ini. seorang iqdam yang setiap mendekati ujian harus rela mengurangi banyak waktu istirahatnya hanya untuk lebih lama memandang buku-buku eksak yang begitu membebaninya. bahkan dapat dikatakan memilih jurusan selama belajar di Madrasah Aliyah pada kelas Ilmu Alam hanyalah karena kemurahan guru-guru saya, bukan karena kepandaian saya.

saya pun menulis tulisan ini sambil tersenyum 🙂

namun anehnya, setelah sejak kelas 2 Madrasah Aliyah dan saya berpindah halauan dalam menggantungkan cita-cita (nanti akan saya ceritakan bagaimana cita-cita saya dapat berganti) justru beberapa kali saya dikira seorang dokter oleh beberapa orang, xixixi 😀

yang terakhir kali baru terjadi bulan lalu. ceritanya ketika itu ada seorang tamu dari banjar patroman jawa barat yang ingin bertemu dengan bapak saya, namun sayang ketika itu bapak sedang istirahat karena agak gerah (sakit -jw). dan sayalah yang kemudian mengganti bapak untuk menemui tamu tersebut menyampaikan hajatnya.

di akhir obrolan, sang tamu tersebut bertanya: “mas ini dokter ya?” ia mencoba menebak dengan penuh kepercayaan

saya pun menjawab dengan santai “nggak pak, saya bukan dokter”

eh, anehnya dengan jawaban saya tersebut sang tamu justru ngotot dan membantah “nggak mungkin, mas ini mesti dokter. kelihatan dari tampangnya”

kaget dengan bantahannya, saya pun kembali menjawab “bukan pak, saya bukan dokter. serius”

masih tidak percaya dengan jawaban saya, dia pun kembali berkata “ah, saya nggak percaya. dari tampangnya kelihatan banget orang cerdas, mesti dokter kan”

karena tidak mau memperpanjang debat kusir ini, saya pun mengalah dengan senyuman lebar.

 

tidak berhenti sampai disitu saja. malam harinya bapak saya giliran yang dibuat kaget. saat itu bapak yang meminta dibelikan obat memerintahkan saya untuk membelikan ke apotek. saya pun segera pergi untuk membelinya tanpa mendengarkan penjelasan bapak lebih lama.

setelah saya pulang dan membawa obat itu, bapak dan ibu saya kompak bertanya “lho kok bisa beli obat itu, seharusnya kan pakai resep dokter.”

saya pun menjawab dengan santai “saya kan dokter, makanya mbak apotekernya nggak tanya resep sama saya.”

“lho kok bisa? trus tadi kamu bilang apa sama apotekernya? kamu ngaku-ngaku dokter ya” selidik bapak saya

“saya cuma bilang ‘mbak tolong ambilkan obat ini ya'” hehehe.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s