Seorang Kakek dan Kerbaunya


image fotografindo.com
image fotografindo.com

Sore hari lalu jalan alternatif di magelang utara mengalami kemacetan kecil, delapan ekor kerbau yang digembala seorang kakek menyeberangi jalanan padat. Puluhan motor dan mobil keluarga pun menunggu delapan kerbau itu menyeberangi jalan, termasuk diantara pengemudi motor itu adalah saya yang mengendarai mio merah.

Satu, dua, tiga hingga delapan kerbau melintasi jalan dengan santai dan perlahan. Badannya tampak kotor dikarenakan lumpur yang melumuri keseluruhan tubuhnya. Saya menjadi ingat dengan pelajaran di kala MI (Madrasah Ibtidaiyah / setingkat SD), salah satu guru IPA saya ketika itu mengatakan bahwa kerbau memerlukan lumpur untuk melumuri kulitnya guna melenturkan kulit yang kaku.

Namun saya kira kedelapan kerbau yang menyeberang jalan itu bukan sekedar menggambarkan kotornya badan dikarenakan lumpur untuk melenturkan kulit itu, atau mungkin bagi manusia kita mengenalnya sebagai Spa dengan lumpur. Tapi kerbau itu seolah ingin menunjukkan pada para manusia akan kekokohan badannya setelah bekerja di sawah sepanjang hari.

Ya, kedelapan kerbau itu semuanya patuh dalam gembalaan seorang kakek yang sepuh dan ototnya tak lagi perkasa. Saya hanya bisa membayangkan, apa jadinya jika kedelapan kerbau yang kuat, bertenaga besar, berotot kuat, dan juga mampu berlari kencang itu ditambahkan akal pada dirinya. Masihkah mereka mau tunduk di bawah gembalaan seorang kakek tua? Saya kira tidak. Dan itulah yang menjadikan manusia istimewa, menjadikannya sebagai makhluq pilihan yang dipilih Allah sebagai khalifah di muka bumi. (Saya menjadi teringat dengan sebuah cerita tentang pengangkatan manusia menjadi khalifah yang disebutkan di surat Al-Baqarah)

Aah, tapi keheranan saya dengan kerbau itu membuat saya mengalihkan perhatian kepada masyarakat yang juga patuh terhadap sebagian orang yang dikatakan sebagai pemerintah. Sesaat lagi kita akan masuk ke musim pemilu, dan sesaat lagi kita akan menjumpai banyaknya manusia yang patuh layaknya kerbau. Mereka begitu mudah dikendalikan oleh para calon anggota legislatif hingga calon presiden.

Sebagian diantara mereka dikendalikan dengan uang, namun ada yang lebih parah lagi, mereka dikendalikan hanya dengan buaian janji atau visi dan misi yang palsu. Apakah manusia juga seperti kerbau manakala menjadi gembalaan di pemilu? Saya kira tak jauh berbeda. Manusia bisa menjadi layaknya kerbau atau bahkan lebih rendah dari itu manakala memiliki mata namun tak mau melihat, memiliki telinga namun tak mau mendengar, dan memiliki hati namun tak mau beriman..

Kita bukan kerbau, namun kitalah para penggembalanya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s