Menuntut Ilmu Bukan untuk Gelar


toga
toga

Pagi hari ini saya sedang merampungkan editing buku yang saya beri judul “Menjadi Muthawif Anda di Tanah Suci”. Ketika tiba pada bab terakhir yakni merapikan Daftar Pustaka, saya agak kesulitan ketika harus memasukkan nama-nama penulis yang sebagian besar telah bergelar Profesor, Doktor atau gelar lainnya yang tak kalah menterang. Namun saya kemudian teringat dengan apa yang disampaikan dosen Bahasa Indonesia saya ketika itu, yakni untuk menuliskan nama dalam daftar pustaka tanpa mencantumkan gelar.

Sesaat saya menjadi agak protes, bagaimana mungkin sekian banyak gelar harus saya lucuti dari para pakar itu. Misalkan Kyai Ali Yafie yang bergelar Profesor Doktor, kemudian juga Muhammad Ilyas dari Pakistan yang juga bergelar Doktor dan sekian puluh nama lainnya yang memiliki gelar berderat. Bukankah melucuti gelar mereka sama artinya dengan tindakan tidak menghormati ilmu?

Namun ternyata tidak. Saya pun berhenti sesaat untuk memikirkan sehingga menemukan kalimat berikut…

Gelar kesarjanaan hingga kini masih menjadi salah satu patokan intelektualitas seseorang.. namun gelar saja tidak cukup, karena kini mendapatkan gelar bukanlah hal yang susah.. nahh, untuk memperkuatnya kini diyakini bahwa Buku / Karya Tulis adalah bukti dari karya intelektual..

tahukah anda, dalam sebuah buku ilmiyah pastilah di halaman paling belakang dicantumkan sebuah daftar pustaka. dan disana diatur penulisan sebuah nama tidak diperkenankan mencantumkan gelar.

lantas untuk apa kuliah sekian lama jika gelar kesarjanaan dalam daftar pustaka (juga dalam penulisan karya ilmiyah) tidak diperkenankan untuk ditulis?

ini mengandung pesan bahwa gelar bukanlah segalanya, namun ilmu yang tertulis didalamnya yang lebih memiliki arti. dalam menulis karya ilmiyah tidak ada perbedaan penilaian antara karya seorang professor dengan seorang lulusan SMA..

semuanya sama, tak heran jika banyak penulis yang lebih senang menuliskan nama pena-nya dibanding dengan nama aslinya. mari kita belajar dari sikap seorang intelek yang rendah diri dan tawadhu’.. seolah mereka ingin mengatakan bahwa gelar (urusan keduniaan) tidak ada artinya dibanding ilmu (investasi menuju akhirat)

citrosono, 05 Januari 2014
rafiqjauhary.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s