Untuk apa bersedekah?


Yang akan saya sampaikan ini bukanlah kisah sahabat atau kisah para ulama salaf. Hanyalah kisah seorang kyai beserta istri dan para tetangganya. Kebenaran cerita ini tidak bisa diklarifikasi, namun karena ini menjadi cerita yang masyhur dan bisa diambil fadhilahnya, saya pun menampilkan dalam website ini.

Suatu hari, seorang petani -sebut saja slamet- baru saja kembali dari kebun dengan membawa ketela yang banyak, hasil dari panenannya di kebun. Begitu ia melewati masjid, ia tiba-tiba teringat akan pesan kyai di kampungnya untuk menyisihkan rizki yang dimilikinya untuk disedekahkan ke kerabat dekat.

Karenanya, hasil panenannya ini sebagian diantaranya disimpan u tuk keluarga, sebagian untuk dijual dan sebagian lagi untuk disedekahkan kepada kerabat, termasuk diantaranya adalah pak kyai yang banyak mengajarinya permasalahan agama.

Maka berjalanlah si slamet ini ke rumah pak kyai dan disampaikanlah hajatnya. Pak kyai yang menerima ketela dari si slamet ini pun sangat bahagia, dan memerintahkan kepada istrinya untuk memberikan hadiah balasan untuk si slamet.

Namun sayang, si istri mengatakan “kita di rumah tidak memiliki apa-apa, kecuali hanya seekor kambing muda (cempe -jw).”

Karena sudah meniatkan dan karen saking bahagianya pak kyai memiliki murid seperti slamet, pak kyai pun memerintahkan istrinya untuk menhambil kambing muda itu dan menyerahkannya si slamet. Seperti yang bisa ditebak, Slamet pun sangat senang dengan hadiah dari kyai ini. Dia pun membawa kambing muda ini pulang.

Namun di tenah perjalanan menuju rumah, slamet bertemu dengan tejo. Tejo yang penasaran dengan slamet yang menuntun kambing, dia pun bertanya dari mana asal kambing itu. Slamet pun menceritakan kejadiannya hingga diberi kambing oleh pak kyai.

Cerita slamet ini ternyata menjadikan Tejo tertantang. Tak berselang lama, dia pun nerlari menuju kebunnya dan memanen sekian banyak durian. Dia ingin membawa durian itu ke rumah kyai. Dan dia membayangkan, jika slamet yang membawa ketela saja dapat pulang dengan kambing muda, maka dia mengira hadiah durian ini akan dibalas dengan sapi muda (pedhet) oleh pak kyai.

Namun apa yang terjadi?

Pak kyai senang sekali dengan hadiah durian dari si Tejo. Hanya saja karena di rumahnya tidak ada apapun yang dapat dihadiahkan melainkan hanya ketela pemberian slamet. Tejo pun akhirnya pulang dengan muka masam sambil membawa ketela.

Semoga sedikit cerita ini npbisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa seharusnya shadaqah / hadiah (perbuatan apapun) yang diperbuat seseorang hendaknya dilandasi d3ngan niat ikhlas (karena Allah).

*Ditulis di masjid nabawi, 1 april 2014. Pukul 18:20 menjelang waktu maghrib

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s