Jus Alpukat


 

 

jus alpukat
jus alpukat

Selama ini saya memendamnya, namun pagi ini saya baru menceritakannya pada bapak & ibu..

Ceritanya begini, dulu ketika menginjak kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah bapak ingin agar saya menambah jam belajar sore hari di salah satu Lembaga bimbingan belajar di kecamatan yang jaraknya hampir 3 km dari rumah tinggal saya.

Sering kali saya berangkat dan kembali berjalan kaki, terkadang menggunakan sepeda ontel.

Karena jam belajar bertambah, bapak pun menambah uang saku jika pada hari sekolah saya diberi uang saku Rp. 300 hingga Rp. 500, maka jika ada jadwal bimbel saya pun diberi uang saku tambahan dengan nominal yang sama.

Padahal teman-teman saya ketika itu sudah diberi uang saku Rp. 1.000 dan beberapa di antara mereka yang mengikuti bimbingan belajar juga akan diberi uang saku tambahan dengan nominal sama.

Siang hari ba’da dhuhur saya bersama teman-teman akan berjalan bersama menuju kota kecamatan, dan ketika tiba di 2/3 perjalanan biasanya kami akan berhenti di sebuah kedai penjual minuman jus buah-buahan.

Karena uang saku saya dibanding teman-teman terpaut cukup banyak (saya Rp. 300 sedangkan teman-teman Rp. 1.000) maka saya hanya mampu membeli jus tape (singkong yang telah divermentasi), sedangkan teman-teman banyak yang membeli jus alpukat, apel atau jeruk.

Setiap kali teman saya bertanya, “kok kamu beli jus tape terus?”, saya akan mengelak dengan alasan, “enakan ini, lebih seger”. Percakapan selalu berhenti disitu, tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

Padahal dalam hati saya selalu memendam rasa ingin untuk membeli jus alpukat yang telah diberi susu cokelat. Namun apalah daya, uang saya hanya Rp. 300 sedangkan jus alpukat berharga Rp. 500. Andaikan saya diberi uang saku lebih pun, saya masih memiliki angan-angan, “kalau seluruh uang saku saya habiskan, apa yang bisa saya tabung?”. Dan saya tidak pernah meminta uang saku kebih dari orang tua saya, kecuali jika mereka memberi saya lebih.

Kenapa? Entah, namun ketika itu kondisi ekonomi keluarga tidak dapat dikatakan berlebih. Semuanya harus menghemat, semuanya harus belajar menabung dan hidup sederhana.

Ketika saat ini saya cerita keinginan membeli alpukat, betapa geli kedua orang tua saya dan tersenyum lebar.. oh alpukat, betapa mahalnya kau saat itu..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s