Masjidil Aqsa: Kado Istimewa dari Umar bin Khattab


baitul maqdis
baitul maqdis

Bismillahir rahmanir rahim

Saya menulis ulang kisah / sejarah ini bersamaan dengan digempurnya pertahanan Islam di Jalur Gazza Palestina (Ramadhan 1435 H). Tak terperi rasa perih di hati ketika mata ini dipaksa melihat adik-adik tak berdosa harus menjadi korban serangan membabi buta para tentara Zionis.

Maka melalui tulisan ini saya mengajak Anda para pembaca untuk memasukkan Masjidil Aqsa dalam kamus besar kehidupan Anda, menggantungkannya dalam salah satu cita-cita mulia Anda dan menjadikannya sebagai baris pertama dalam rangakaian doa Anda.

Inilah kisahnya. Palestina, negeri pemangku Masjidil Aqsa..

Mengenal Umar bin Khattab dan Prestasinya

Di antara julukan yang disematkan pada Khalifah kedua dalam Islam (Umar bin Khattab) adalah ‘Sang Penakluk’. Sebuah julukan hebat yang diberikan kepada seorang yang mampu meruntuhkan Kerajaan Persia dan mengusir Romawi dari bumi Syam, bahkan pimpinan tertingginya Heraklius pun terpaksa harus melarikan diri ke Konstantinopel (kini dikenal menjadi Istanbul, Turki).

Prestasi besar yang ditorehkan Umar bin Khattab dapat dilihat di tahun kedua dalam kepemimpinannya, dimana beliau beserta pasukannya sejumlah 35.000 orang di bawah panglima Abu Ubaidah bin Jarah mampu menaklukkan Baitul Maqdis, Palestina.

Cerita ini bermula dari tahun pertama menjabat sebagai Khalifah di tahun ke-13 H Umar bin Khattab membuat sebuah keputusan fenomenal, beliau mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai panglima tentara dan menyerahkannya pada Abu Ubaidah bin Jarah. Kebijakan ini mulanya menjadi perbincangan yang hangat, tentu saja karena saat itu Khalid bin Walid memiliki prestasi yang sangat cemerlang. Tidak ada satu wilayah pun yang dilalui Khalid melainkan pasti ditaklukkannya, akan tetapi justru karena itulah beliau mencopotnya dengan alasan kekhawatirannya jika masyarakat berubah mengkultuskan Khalid, seolah dialah pembawa kemenangan.

Abu Ubaidah bin Jarah Sebagai Panglima Tentara

Abu Ubaidah yang harus menyesuaikan diri dengan puluhan ribu pasukannya pun akhirnya di tahun pertama mampu menusukkan serangannya ke Ibu Kota negeri Syam, Damaskus. Kota yang dikatakan sebagai surga dunia ini pun berhasil di bebaskan sehingga menjadi awal bergetarnya dominasi Romawi di negeri Syam. Para komandan di bawah kepemimpinannya pun mampu menunjukkan prestasi bagus, termasuk di antaranya adalah seorang komandan bernama Amru bin Ash yang berhasil memperdaya seorang Aretion Romawi sehingga dirinya pun digelari Aretion Arab.

Amru bin Ash kemudian mengirimkan surat kepada Umar bin Khattab, ia mengatakan “Sesungguhnya saya sedang menghadapi peperangan yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Adalah kota yang sengaja saya khususkan bagi Anda, terserah mau Anda apakan.”

Begitu membaca surat ini Umar pun langsung memahami bahwa komandan ini bukan sedang bercanda, dan Umar pun paham bahwa kota yang dimaksud adalah Baitul Maqdis / Palestina.

Pasukan Islam

Dalam peperangan itu kendali tertingi tetap berada di bawah Panglima Abu Ubaidah bin Jarah, beliau memiliki 35.000 pasukan yang dipimpin oleh tujuh komandan, masing-masing dari mereka memiliki 5.000 pasukan. Mereka adalah:

  1. Khalid bin Walid
  2. Yazid bin Abu Sufyan
  3. Syurahbil bin Hasanah (kavaleri berkuda)
  4. Mirqal bin Hasyim
  5. Musayib bin Najiyah
  6. Qais bin Hubairah
  7. Urwah bin Muhalhil

Abu Ubaidah pun membagi setiap komandan untuk mendatangi benteng berangsur-angsur setiap hari, dengan harapan pasukan musuh di dalam banteng tersita perhatiannya, tidak memiliki waktu untuk beristirahat dan hatinya tidak tenang.

Pasukan yang tiba pertama dipimpin oleh Khalid bin Walid, mereka sangat semangat meneriakkan takbir dan maju begitu gagah. Pasukan Romawi di dalam benteng menganggap jumlah pasukan Khalid yang sedikit sebagai suatu hal yang remeh karena ia menganggap bahwa pasukan ini adalah total dari keseluruhan pasukan Islam.

Namun mereka salah karena Yazid bin Abu Sufyan menyusul di hari kedua dengan pasukan yang tak kalah perkasa, begitupun Syurahbil di hari ketiga, Mirqal di hari keempat, Musayib di hari kelima, Qais hari keenam, dan di hari ketujuh Urwah datang dengan pasukannya langsung mendekat ke gerbang Ramallah.

Pengepungan Benteng Elia / Baitul Maqdis

Selama tiga hari mereka berdiam mengepung benteng tanpa ada serangan maupun pengiriman utusan. Begitupun dengan pihak Romawi, mereka masih begitu percaya diri sehingga melihat kekuatan pasukan Islam tidak merasa gentar. Patut diakui, benteng mereka sangat kuat, dan pasukan mereka sangat terlatih.

Musayib pun mengatakan, “Tidak ada satu tempat pun yang kami singgahi di negeri Syam yang penuh dengan hiasan dan amunisi melebihi Baitul Maqdis. Tidak ada satu kaum pun yang kami lewati kecuali mereka tunduk, merasa resah dan ketakutan kecuali Baitul Maqdis. Kami mengepung mereka selama tiga hari namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mengajak berunding. Hanya saja penjagaan mereka sangat kuat. Amunisi dan logistic mereka sangat lengkap.”

Di hari keempat penduduk di sekitar mulai mengajak berbicara pada Syurahbil. Dan di hari kelima Yazid bin Abu Sufyan mendekat bersama penerjemahnya untuk menawarkan tiga pilihan. Masuk Agama Islam, tetap pada Agamanya namun tunduk pada kekuasaan Islam dengan konsekuensi membayar Jizyah, dan pilihan ketiga adalah berperang. Namun perwakilan dari mereka memilih opsi ketiga.

Penyerangan ke Elia / Baitul Maqdis

Yazid pun menulis surat untuk disampaikan pada Abu Ubaidah tentang pilihan musuh berperang dan menanyakan apa yang diperintahkan kepada pasukannya. Setelah membaca surat, Abu Ubaidah langsung memerintahkan untuk menyiapkan pasukannya menggempur musuh.

Ada satu hal yang menarik di hari sebelum penggempuran ini, dalam shalat shubuh setiap komandan yang memimpin shalat serempak membaca ayat ke-21 dari surat Al-Maidah padahal sebelumnya tanpa ada kesepakatan dari mereka. Bahkan pasukan mengatakan seolah pembacaan surat ini diinstruksikan langsung oleh Allah.

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke Tanah Suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh). Maka kalian akan merugi.”

Seusai shalat para komandan pun berteriak, “Serbuu..!!” Himyar dan pasukannya dari Yaman menjadi orang pertama yang menyerbu benteng. Pasukan musuh pun menghujani mereka dengan anak panah, dan pasukan Islam berlindung di balik tamengnya.

Peperangan berlangsung dengan sengit, dan berlanjut hingga sore hari. Ketika matahari tenggelam mereka mundur untuk menunaikan shalat dan beristirahat. Esok hari perang dilanjutkan seperti semula.

Hingga di hari kesebelas, Abu Ubaidah maju ke barisan terdepan, pasukan berjuang semakin keras dan takbir pun bergemuruh. Pada saat itu Patriark panglima dari Romawi menyambut majunya Abu Ubaidah dengan ikut maju ke barisan depan. Dia kemudian berteriak, “Wahai kaum muslimin, hentikan peperangan! Kami akan meneliti! Kami akan mengajukan pertanyaan!”

Peperangan pun dihentikan sesaat. Melalui penerjemahnya ia menyampaikan bahwa dirinya ingin menemui pimpinan dari kaum muslimin dengan alasan jika pimpinan pasukan Islam sesuai dengan yang dimaktubkan dalam Kitab Sucinya, maka mereka akan menyerah dengan damai. Namun begitu ia menjumpai Abu Ubaidah dan memastikan bahwa pimpinan Islam tidak sesuai dengan apa yang dikatakan kitab sucinya, Patriark mengatakan “Bukan dia orangnya! Bergembiralah! Serang terus! Perjuangkan tanah air, Agama dan batas territorial kalian!.”

Peperangan ternyata berlanjut hingga 14 bulan, melalui musim panas yang terik dan musim dingin yang menggigit. Pasukan Islam tidak pernah mengendurkan semangatnya, dan pasukan musuh tidak susut mentalnya.

Hingga suatu saat tentara Romawi berteriak untuk mengajak berunding, Abu Ubaidah dan para komandannya pun menemuinya. Disana disampaikanlah kembali tiga penawaran Islam seperti semula dan Patriark tetap menolak. Patriark justru menanyakan sebab apakah yang menjadikan Ummat Islam sangat ingin menguasai Baitul Maqdis, apakah Ummat Islam tidak tahu bahwa Baitul Maqdis bagi warga Nasrani dianggap sebagai tempat yang disucikan, sehingga menjadikan tentara Nasrani tidak pernah melepaskannya bahkan rela mati demi mempertahankan Tanah Sucinya. Abu Ubaidah pun menjelaskan bahwa bagi ummat Islam Baitul Maqdis juga disucikan, dan Islam lebih berhak menguasai Baitul Maqdis dibanding Romawi yang durjana.

Rahasia Romawi

Patriark akhirnya mengungkapkan rahasianya, “Sesungguhnya kami mendapati dalam kitab kami dan beberapa hasil bacaan kami bahwa yang akan menaklukkan negeri kami adalah sahabat Muhammad yang bernama Umar dan biasa dikenal dengan julukan Al-Faruq. Dia adalah seorang lelaki yang keras-tegas. Celaan tidak mempengaruhi sedikitpun di jalan Allah. Dan kami tidak mendapati sifat-sifat tersebut pada diri kalian.”

Abu Ubaidah pun tersenyum dan menegaskan bahwa pasukannya akan menaklukkan Baitul Maqdis, ia kemudian bertanya, “Apakah jika kalian melihat orang itu kalian bisa mengenalinya?”

Patriark membenarkan, ia akan mengenalinya karena karakteristiknya termaktub dalam kitabnya bahkan hingga disebutkan namanya dan masa pemerintahannya. Abu Ubaidah kemudian mengatakan bahwa Umar Al-Faruq yang disebutnya adalah khalifah tertinggi dalam pemerintahan Islam saat itu, dia adalah sahabat Muhammad. Setelah itu Patriark memohon agar pertumpahan darah diberhentikan hingga ia menjumpai Umar dan tunduk padanya dengan damai.

Surat untuk Umar bin Khattab

Abu Ubaidah akhirnya menuliskan surat pada Umar bin Khattab menjelaskan tentang hal tersebut. Begitu menerima surat itu, Umar bergegas menyiapkan perbekalannya. Setelah melakukan shalat empat rakaat di masjid, beliau menunggangi unta menuju ke Syam dengan dikawal beberapa sahabatnya. Sedangkan pemerintahan di Madinah dipasrahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Mendengar Umar tiba di Syam, Abu Ubaidah sebagai panglima tentara pun menjemputnya dan menemani beliau di sisa perjalanan hingga ke Baitul Maqdis. Sepanjang jalan Umar bin Khattab pun ditemui para komandan lainnya. Di tengah pasukan, Umar pun didaulat untuk mengimami para pasukan kemudian memberikan khutbah yang panjang, sebuah khutbah yang mengobarkan semangat dan memupuk keimanan.

Pertemuan Umar bin Khattab dengan Patriark

Dengan pakaian seadanya Umar bin Khattab bersiap menemui Patriark, para sahabat pun memperhatikan ada sebuah hal yang janggal bagi seorang khalifah. Ternyata Umar menggunakan pakaian biasa dan disana tampak ada 14 jahitan yang semakin membuat baju itu mengenaskan. Apalagi di beberapa jahitan Umar menambalnya dengan kulit yang memiliki warna lain.

Beberapa pasukan pun menyiapkan pakaian terbaik dan seekor kuda giras untuk mengganti untanya yang tidak menarik. Umar pun setuju dan mengganti pakaian. Karena sejak muda dikenal sebagai penunggang kuda terbaik di Kabilah Quraisy, dengan mudah Umar pun melompat ke punggung kuda dan kuda itu menyambutnya dengan mengangkat kedua kaki depannya. Jika dilihat tentu saat itu Umar tidak kalah gagah dengan patung Pangeran Diponegoro yang banyak ditemukan di penjuru kota di Indonesia.

Sesaat setelah kuda itu menunjukkan aksinya, Umar langsung turun dan menanggalkan pakaiannya. Beliau mengatakan, “Demi Allah, hampir saja pimpinan kalian ini binasa disebabkan rasa sombong dan tinggi hati yang merasuk ke dalam diri.. Pakaian putih dan kuda giras yang kalian berikan hampir saja membuat aku celaka..”

Di tengah prestasinya sangat gemilang, Umar masih menampakkan kezuhudannya. Beliau pun akhirnya menghadap Patriark dengan baju yang dipakai semula dan menunggang untanya. Beliau menemui Patriark dengan didampingi Abu Ubaidah.

Ketika Patriark tiba, Abu Ubaidah mengatakan “Ini Amirul Mukminin Umar, tidak ada pemimpin lagi di atasnya, telah datang.” Abu Ubaidah kemudian mempersilakan Patriark untuk mengamati Umar sebagaimana yang tercantum dalam kitab sucinya.

Tidak berselang lama, Patriark langsung memberitahu penduduknya untuk membuat perjanjian kemananan dan Dzimmah dengannya, dia mengatakan “Demi Tuhan, orang itu adalah sahabat Muhammad bin Abdullah.”

Menunjuk Gubernur untuk Baitul Maqdis

Setelah itu resmilah Baitul Maqdis menjadi wilayah di bawah kekuasaan Islam, inilah kado terindah dari Umar bin Khattab untuk Islam. Mulai saat itu tentara Romawi dikeluarkan dari Baitul Maqdis,Retion sebagai komandannya melarikan diri ke Iskandariah / Alexandria dan pimpinan tertingginya, Herakliaus melarikan diri ke Konstantinopel / Istanbul. Beliau kemudian menunjuk Abu Ubaidah sebagai gubernur Baitul Maqdis.

 

Pelajaran untuk Ummat Islam

Dengan pengepungan selama 14 bulan inilah Patriark akhirnya mengungkapkan rahasianya, dan membiarkan negerinya ditaklukkan Umar sebagaimana tercantumkan dalam Kitabnya. Nah apakah kita akan berdiam diri menunggu tibanya Al-Mahdi untuk memenangkan Islam, ataukah ikut ambil bagian seperti yang dilakukan para sahabat untuk menyerang dan mengepung benteng Baitul Maqdis?

 

Ditulis oleh @rafiqjauhary (rafiqjauhary.com) pada hari Jumat, 11 Juli 2014 di Citrosono

Diperkenankan memperbanyak tulisan ini tanpa mengadakan pengubah kata atau kalimatnya sedikitpun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s