Kenapa harus mencemooh para muthawif?


muthawif

Bismillahir rahmanir rahim..

Lebih kurang selama dua tahun saya pernah mengenyam studi di kota Makkah, dan tentu saya cukup mengenal tentang dunia kemuthawifan. Baik suka, maupun dukanya. Hingga kini pun saya masih cukup akrab dengan teman-teman pelajar baik di Makkah maupun Madinah.

Sebenarnya saya tak bisa dikatakan sebagai orang yang ‘menyibukkan diri dengan membimbing jamaah’ atau ‘mengalahkan studi untuk menjadi muthawif’. Bahkan kalau mau berhitung, selama belajar di Makkah saya baru merasakan menjadi muthawif bagi jamaah umrah empat atau lima kali, dan selebihnya saya menjadi muthawif sekaligus menghandle beberapa KBIH di musim haji.

Menjadi muthawif di kalangan para pelajar.

Di kalangan para pelajar, menjadi muthawif seolah menjadi cemoohan. Mereka yang mencemooh memiliki beberapa alasan, berikut adalah alasan para pencemooh yang berhasil saya tangkap:

  • Izin tinggal, beberapa pelajar mempermasalahkan izin tinggal sebagai thalib yang tidak diperkenankan bekerja.
  • Qanaah, beberapa pelajar mempermasalahkan sifat qana’ah, seolah living cost yang diberikan pihak universitas masih kurang.
  • Direndahkan martabatnya, beberapa pelajar memandang bahwa seorang thalibul ilmi tidak pantas bekerja sebagai muthawif / guide. Terlebih jika muthawif ini harus ikut membantu jamaah mengangkat koper atau membelanjakan air mineral.
  • Menyita waktu belajar, beberapa pelajar melihat bahwa menjadi muthawif harus meninggalkan perkuliahan.

Itulah alasan mereka, namun bagi para muthawif tidak sepenuhnya alasan itu tepat.

Pembelaan

Tidak bisa disalahkan, beberapa pelajar memutuskan untuk bekerja sebagai muthawif karena kebutuhan mereka yang belum terpenuhi. Tengok saja beberapa di antara mereka telah berkeluarga, memiliki istri dan anak. Sementara living cost per bulan yang diterimanya hanya sejumlah 800 riyal, padahal ia harus menanggung biaya sewa apartemen, biaya makan, kesehatan dan lainnya. Ada juga beberapa pelajar yang saya jumpai, mereka memutuskan bekerja di waktu senggangnya supaya hasilnya bisa dikirimkan ke orang tuanya di Indonesia yang masih kekurangan.

Menjadi pelajar adalah status mulia, dan bekerja memenuhi kebutuhan hidup pun sebuah aktifitas yang mulia. Namun terkadang aneh, pekerjaan apapun (terutama menjadi muthawif) di kalangan para pelajar justru seolah diremehkan. Jika visa tidak memperkenankan untuk bekerja, namun mengapa ketika seorang bekerja menjadi penerjemah tidak pernah dipermasalahkan? Lagi pula status pekerjaan yang dilakukan tidak akan berubah menjadi perbuatan haram manakala visa tidak memperkenankannya bekerja.

Betul, di antara muthawif memang ada yang hidupnya menjadi glamour. Mereka yang sebelumnya datang dari keluarga sederhana berubah menjadi penggila iPhone, iMac, Galaxy S5 pakaiannya harus bermerk Ashil, Dufah, Shiyakah makannya pun selalu Mathghut Hasyi, Mandi, Dabanji. Akan tetapi kita tak bisa menjadikan kasus ini untuk menyamakan seluruh muthawif.

Begitupun ada beberapa di antara muthawif yang kerap bolos kuliah karena mementingkan bekerja menjadi muthawif, tentu ini tidak baik, namun lebih banyak muthawif yang bekerja hanya di waktu senggang saja. Beberapa travel pun tetap memperkenankan muthawifnya untuk masuk kuliah di waktu pagi dan siang hari.

Adapun mengenai martabat yang direndahkan, saya kira ini justru muncul karena para pelajar ingin dihormati sehingga merasa bahwa melayani jamaah haji sebagai perendahan martabat. Jika ada seorang bos travel atau seorang jamaah yang ingin dilayani dan menjadikan muthawif sebagai pembantu, hal ini terjadi karena kesalahan prosedur.

Memegang prinsip, Menegakkan sunnah

Satu hal yang masih saya benarkan. Bahwa sebagian besar travel di Indonesia masih belum bisa menerima sunnah dengan baik, ini menjadi tantangan seorang muthawif. Ketika seorang muthawif mengajarkan sunnah, dia akan ditentag pemilik travel dan jamaahnya, namun jika seorang muthawif mengikuti apa yang dikehendaki travel, dia akan meninggalkan prinsipnya.

Memang disinilah rintangam terberatnya. Akan tetapi bukankah rintangan ini justru menjadi ajang para pelajar untuk praktik berdakwah? Orang seperti merekalah yang kelak akan Anda hadapi ketika tiba di Indonesia.

 

ini hanyalah tulisan pendek saya untuk membuka permasalahan seputar kemuthawifan, insya Allah akan ada tulisan-tulisan selanjutnya tentang muthawif yang akan saya sampaikan.

saya menyediakan kolom komentar di bawah bagi anda yang ingin ngobrol tentang dunia muthawif, atau bisa melalui pesan pribadi di rafiq.jauhary@yahoo.com

Iklan

One Reply to “Kenapa harus mencemooh para muthawif?”

  1. Good Day,

    Terapkan Untuk Pinjaman Aku Mr Jose White, pemberi pinjaman Pinjaman pribadi
    dan bekerja sama keuangan untuk real estate dan setiap jenis bisnis
    pembiayaan. Saya juga menawarkan Pinjaman kepada individu, Perusahaan dan bekerja sama
    badan pada tingkat bunga 3% Kami menawarkan jenis pinjaman. email kami melalui
    joseloan2@gmail.com

    PINJAMAN FORMULIR PENDAFTARAN

    Nama depan: …………………….
    Nama tengah: …………………….
    Nama belakang: ………………………………….
    Tanggal lahir (yyyy-mm-dd): …………………..
    Jenis Kelamin: …………………………………….
    Status perkawinan: ……………………………..
    Jumlah Total Dibutuhkan ………………………….
    Jangka waktu pinjaman ………………………………
    Alamat: ……………………………………
    Kota: ………………………………………
    Negara bagian / provinsi: ……………………………..
    Zip / kode pos: …………………………….
    Negara: ……………………………………
    Telepon: ……………………………………..
    Fax: ……………………………………….
    Handphone / seluler: …………………………….
    Penghasilan Bulanan ………………………………
    Pekerjaan: …………………………………

    Best Regard,
    Mr Jose White.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s