BELAJAR MENULIS OTODIDAK


10583971_10205873057568694_1870455825481039601_n
rafiq jauhary, pembimbing ibadah haji dan umrah

Saya bukanlah kutubuku, bahkan ketika mondok beberapa kali bapak saya justru mengingatkan “Kalau sebatas buku agama, nggak usah beli. Bapak punya banyak di rumah, atau baca aja di perpustakaan.”

Maka selama enam tahun di pondok, (selain buku pelajaran) tidak lebih dari 20 buku yang selesai saya baca. Mengenaskan sekali.

Kondisi ini berubah sekitar tahun 2006 ketika dalam pelajaran bahasa Indonesia saya bertemu dengan ustadz Arif Nasrullah yang bercerita kalau beliau sering menulis resensi buku untuk beberapa media cetak dan mendapatkan honor yang cukup untuk membeli beberapa buku lain. Beliaulah juga yang mengenalkan dengan website penulislepas yang dibentuk mas Jonru Ginting.

Setahun selanjutnya di kelas 3 Aliyah saya bertemu dengan guru Fisika ustadz Shofwan Ridho yang ternyata beliau memiliki banyak karya buku cetak dan LKS, baik tentang fisika atau juga tentang TIK. Tidak banyak rumus fisika yang saya hafal dari beliau, tapi justru sebuah ungkapan singkat yang sampai sekarang masih membekas “Setiap orang besar, pasti punya setidaknya satu karya tulis. Entah dia yang menulis, atau dia yang menjadi objek penulisan”

Berbekal dengan semangat yang terbesit dari cerita-cerita singkat guru-guru saya tersebut, dalam hati saya pun memiliki motivasi “saya harus bisa menghasilkan karya tulis”

Sadar karena bekal keilmuan terbatas dan tidak ada guru yang secara khusus mengajarkan saya tentang kepenulisan. Maka, blog menjadi pilihan saya untuk belajar. Dan dari milist penulis lepas saya banyak mendapat pencerahan.

Sayangnya, pada waktu itu pesantren tempat saya belajar tidak mengizinkan santrinya mengakses Internet melalui warnet; sementara akses ke lab komputer hanya bisa saya dapat satu jam dalam satu pekan, itu pun harus berbagi waktu dengan mengerjakan tugas, berbagi satu komputer dengan tiga teman dan jangan harap bisa membuka milist, apalagi belajar menulis tulisan pendek di blog.

Untuk memuaskan rasa keinginan tahuan saya tentang dunia ini, terpaksa saya harus nekat kabur dari pesantren, mengendap-endap untuk masuk ke warnet.

Tentu ini sangat beresiko, saya sangat memahaminya. Dan saya rela ketika suatu saat usaha saya ini diketahui ustadz dan harus menerima hukuman yang tidak ringan.

Karena berlatih menulis dari blog dan belum pernah mendapatkan sentuhan langsung dari mentor ahli, gaya penulisan saya pun tidak beraturan. Untuk menghibur diri, selalu saya sampaikan “inilah gaya menulis Blogger, yang terpenting adalah pesan tersampaikan dan pembaca tidak pusing ketika membacanya.”

Tapi saya memang nekat, walau agak tergesa tapi saya menerbitkan buku pertama saya di usia yang belum genap 21 tahun. Lebih nekat lagi karena saya menerbitkannya secara indie (karena belum mengenal dunia penerbitan) dan harus berpayah-payah memasarkannya.

Bukan buku fiksi atau buku tentang remaja, saya justru menulis buku yang target pembacanya rata-rata 40 atau bahkan 50 tahun ke atas. Saya menulis buku Bahasa Arab Praktis Untuk Jamaah Haji Dan Umroh. Di buku ini saya berusaha membuat suatu yang tidak beraturan (bahasa amiyah / bahasa pasaran) agar tersusun secara sistematis dan teratur.

Berikutnya, menyusul buku Menjadi Muthawif Anda di Tanah Suci dan Amalan di Tanah Suci.

Alhamdulillah, yang saya syukuri, saya tidak pernah bermasalah dengan ‘kekurangan ide’. Di folder laptop saya ada banyak ide yang telah saya tuangkan dalam draft tulisan, rata-rata masih tentang dunia haji dan umrah.

Justru yang sampai sekarang masih terasa mengganjal adalah, masih saja saya terjebak dengan rasa kurang pede. Sehingga terkadang walau baru menulis dua atau tiga halaman, sebelum menulis halaman selanjutnya waktu saya habis untuk membaca halaman sebelumnya dan mengubah satu dua kata agar kalimatnya lebih enak dibaca.

Sayangnya, saya terus merasakan itu sampai terkadang walau sudah menulis sekian belas atau sekian puluh halaman, saya justru memilih untuk tuk menekan CTRL+A kemudian menekan tombol delete. Hehe

Saya percaya, setiap orang bisa menghasilkan karya tulis. Bahkan, seperti saya yang memiliki banyak keterbatasan pun dapat menyelesaikan naskah demi naskah.

Kebahagiaan seorang penulis bukan hanya ketika buku tersebut berhasil diterbitkan, bukan hanya ketika honor royalti dicairkan, tapi lebih dari itu adalah ketika satu persatu pesan baik melalui email, sms atau langsung melalui lisan mengatakan “terima kasih, saya mengambil banyak manfaat dari buku karya Anda.” (rafiq jauhary)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s