BISNIS TAK UBAHNYA SEPERTI MENANGKAP AYAM


ayam-kampung

Malam ini memori saya tiba-tiba mengajak untuk kembali 20 tahun yang lalu, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 1 atau 2 Madrasah Ibtidaiyah.

Di saat itu bapak saya pernah mengajarkan bagaimana menangkap ayam. Sesuatu hal yang sangat sederhana namun ternyata dapat diterapkan dalam keseharian dan situasi yang berbagai macam.

Agar teman-teman lebih kenal, memelihara ayam terutama ayam kampung dan ayam bangkok adalah suatu hal yang telah menjadi kebiasaan turun-temurun di keluarga kami. Hingga kini di halaman belakang pun masih ada sepasang ayam yang sewaktu-waktu bisa untuk disembelih untuk menjamu tamu.

Bukan karena alasan macam-macam, kami senang memeliharanya karena dapat menghindari tabdzir manakala suatu saat makanan di rumah kami tersisa, selain itu kami pun suka karena suara kokokan ayam jagonya bisa menjadi pertanda datangnya waktu fajar.

Layaknya anak kecil ketika bermain ayam, terkadang saya pun mengejarnya atau saking nakalnya sampai memukul ayam itu dengan tongkat. Karena perlakuan nakal saya akhirnya ayam pun menjadi begitu giras, bahkan berontak ketika akan saya tangkap.

Sikapnya sangat berbeda ketika bapak saya yang mendekat, beberapa ekor ayam pun akan menurut dan mendekat seolah menghormatinya. Begitupun ketika tangan kanan bapak saya memegang dadanya untuk menangkap, ayam pun diam dan menurut tanpa perlawanan.

Kadang saya heran, mengapa ayam ini lebih patuh dengan bapak saya, apakah saya masih kecil sehingga tidak dihormati?

Seolah tahu dengan kekesalan yang saya rasakan, bapak pun kemudian mengajarkan. Bahwa perlakuan baik ayam terhadap kita sangat bergantung pada perlakuan kita kepadanya.

Bapak saya pun memberikan sejimpit makanan ayam pada tangan saya, kemudian mengatakan “dekati ayamnya sambil agak menunduk. kalau sudah dekat, diamlah dan biarkan ayamnya yang mendekat.” ternyata benar, berhasil.

Setelah sekian lama bapak saya mengajarkan hal remeh ini, siapa sangka di malam ini dari balik telepon ust Anab Afifi menyampaikan beberapa hal yang membuat saya teringat dengan pesan bapak saya puluhan tahun yang lalu.

“Untuk mendapatkan sambutan pelanggan, terkadang kita harus berkorban memberikan hadiah suatu hal yang menarik untuk mereka. Memang kita tidak bisa berharap sambutan mereka akan datang seketika, namun suatu saat mereka akan teringat dan datang kepada kita.” setidaknya seperti itu pesan yang beliau sampaikan dari balik telepon.

Jika bagi ayam makan siang adalah hal yang begitu menarik, maka kini saya yang harus memikirkan apa yang akan saya berikan kepada pelanggan saya agar mereka tertarik pada apa yang saya tawarkan.

Rafiq Jauhary
*penulis adalah pembimbing ibadah haji dan umrah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s