EKSPANSI MESIR DALAM BISNIS UMRAH DI TANAH SUCI


Sejak pembukaan musim umrah 1439 H banyak pengusaha travel umrah di Mesir menunda memberangkatkan umrah, kabarnya mereka akan menunda hingga menjelang Ramadhan tahun ini. Hal ini mereka lakukan sebagai bentuk protes atas pemberlakuan visa progresif yang pasti berdampak pada biaya pemberangkatan jamaah dan pembimbingnya.

Namun hebatnya, hal ini tidak banyak berdampak pada tenaga kerja Mesir di Tanah Suci yang menawarkan jasa Land Arrangement.

Mengapa? Karena sebagian besar kliennya justru berbagai travel dari Asia Tenggara. Termasuk dari Indonesia.

Ratusan hotel di Makkah dan Madinah dikuasai oleh broker dari Mesir, begitu juga dengan puluhan perusahaan bus pariwisata. Bahkan berbagai restoran hotel yang dihuni jamaah Indonesia pun dikelola oleh tenaga kerja dari Mesir.

Mungkin kita masih mengingat kasus First Travel yang menimpa sebuah perusahaan Dar al-Manasek di Makkah, perusahaan yang sering diwawancarai media di Indonesia ini pun managernya berdarah Mesir.

Sekalipun kini di Tanah Suci terdapat banyak WNI yang bekerja dengan menawarkan produk jasa yang sama, namun entah mengapa masih banyak travel di Indonesia yang lebih memilih bekerjasama dengan warga Mesir.

Konon yang menjadi alasan mengapa memilih kerjasama dengan pengusaha Mesir ini karena mereka telah memiliki legalitas usaha di Arab Saudi, jika ini alasannya, sebenarnya banyak juga kok pengusaha dari Indonesia yang memiliki legalitas usaha di Saudi.

Ada juga yang beralasan karena harganya yang lebih terjangkau, tapi sebenarnya inilah faktor yang harus diwasapadai karena banyak kasus jamaah tertunda checkin hotel hingga berjam-jam karena ternyata harga yang mereka pasarkan jauh dibawah harga yang ditetapkan oleh hotel sehingga management hotel pun menolak kedatangan jamaah.

Setelah kini berbagai hotel dengan standar bintang 3 dan 4 menjalankan restorannya. Jika sebelumnya hanya menyewakan ruang untuk dimasuki catering, kini restorannya dijalankan dan lagi-lagi pengelolanya pun orang-orang Mesir.

Di sebuah hotel berbintang lima di daerah Ajyad Sud Makkah saya mendengar cerita tentang seorang chef dari Indonesia yang tergeser dengan chef Mesir. Begitupun juga dengan restoran lainnya yang dikelola hotel.

Setelah para pengelola hotel bintang 3, 4 dan 5 menjalankan restorannya dengan dikelola para pekerja Mesir, para penghuni hotel yang mayoritas dari Asia Tenggara pun banyak yang protes tentang citarasa makanannya yang kacau.

Nah. Jika orang Mesir telah berhasil menguasai hampir seluruh sektor yang diperlukan jamaah umrah dari Timur Tengah, Asia Tenggara dan Eropa. Nampaknya hanya pasar dari Asia Selatan yang belum berhasil mereka tembus dengan baik.

Padahal jamaah Asia Selatan bisa jadi lebih besar dibanding pasar Asia Tenggara. Negara-negara seperti Pakistan, India, Bangladesh termasuk pengirim jamaah umrah terbesar di dunia. Namun memang kebanyakan selera mereka adalah hotel standar bintang 2 dan 3 berjarak lebih dari 1 kilometer yang kurang seksi untuk dilirik.

Kira-kira, bagaimana peta usaha Travel di Tanah Suci tahun mendatang? Nampaknya menarik untuk diperhatikan.

Rafiq Jauhary
Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s