ASSALAMU ‘ALAIKA YA SYAIKHANA


Semoga keselamatan selalu untukmu wahai ustadz

Magelang, 4 Agustus 2019

Tepat setelah ashar, saat berita wafatnya Ust. Wahyudin saya terima melalui berbagai Group Whatsapp. Tidak perlu lama untuk kemudian memutuskan harus ke Solo untuk ikut menyalatkan beliau.

Ketika langkah kaki memasuki Masjid Baitussalam Ponpes Islam al-Mukmin Ngruki, segala cerita tentang beliau langsung terbayang cepat.

17 tahun lalu, jika dahulu beliau adalah orang yang berdiri terdepan dalam shalat jamaah di masjid ini sebagai imam. Tidak menyangka jika saat ini beliau lah yang terbaring di depan imam untuk dishalatkan.

Sambil menunggu jamaah kedua dalam shalat jenazah, masih terekam jelas dalam ingatan bagaimana karakter suara beliau yang dalam, membuat orang sangat mudah mengenalinya. Apalagi saat menjadi imam, beliau selalu menekankan huruf terakhir dalam setiap ayat yang dibacanya. Awal mendengarnya terasa aneh, tapi setelah 6 tahun menjadi santri beliau ternyata kami menikmati suaranya yang khas dan merindukannya setelah lama berpisah.

Dengan kewibawaannya ketika berbicara dan kedalaman dalam mentadabburi al-Quran, beliau yang saat itu menjabat menjadi Direktur pondok kerap dijadikan sebagai benteng terakhir jika ada di antara santri atau masyarakat yang ‘kesurupan’ diganggu setan. Setelah beberapa ustadz muda tidak berhasil menanganinya, tidak jarang para setan sudah menghilang bahkan ketika Ust Wahyudin berjalan mendekat ke arah kamar santri.

Di akhir mondok, saya bersama teman-teman pernah mendatang rumah beliau; menyatakan hendak mulazamah khusus mempelajari terutama tentang ruqyah dan beliau pun menyanggupinya. Tapi rencana ini tidak berjalan mulus mengingat kesibukan kami menyiapkan Ujian Nasional dan kesibukan beliau mengelola Pondok dan berbagai kegiatan lain.

Jika ditanya tentang apa pesan terdalam dari beliau selama mengajar, maka saya yakin semua yang pernah nyantri dengan beliau akan sepakat bahwa beliau berulang kali menjelaskan Surat al-Maidah (5) ayat 54.

Beliau ingin agar para santrinya menjadi kaum yang digambarkan pada ayat tersebut, mereka dicintai Allah dan mereka pun mencintai-Nya. Merekalah kaum yang bersikap hangat dengan sesama Mukmin dan tegas ketika berhadapan dengan orang-orang kafir. Kaum ini berjihad di jalan Allah dan tidak takut akan celaan siapapun yang mencela. Ust Wahyudin menyebut kaum ini sebagai ‘generasi 554`.

Rahimahullah rahmatan wasi’atan. Semoga Allah menempatkan beliau bersama orang-orang shalih di jannah.

Rafiq Jauhary
Santri beliau yang bandel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s