Seni Menuturkan Kisah


Sebagai penikmat novel saya menemukan berbagai gaya novelis dalam menuturkan cerita. Jika dahulu lebih banyak cerita yang dituturkan secara runtut dari satu kejadian ke kejadian selanjutnya. Kini banyak novelis yang mengacak-acak waktu kejadian tanpa harus mengurutkannya.

Terkadang memang dengan membuat lompatan kejadian pembaca akan terbawa dengan emosi penulis, dengan melakukan flashback pembaca pun bisa menemukan hikmah dari suatu peristiwa, begitupun dengan teknik lain yang lazim dipakai oleh penulis novel.

Teknik menuturkan cerita inilah yang seharusnya juga dimiliki oleh seorang muthawif. Karena tidak hanya perkara fikih dan teknis saja seorang muthawif tampil di hadapan jamaah, melainkan ia juga harus dapat menuturkan berbagai peristiwa sejarah dan mengeluarkan hikmah dari setiap peristiwa di hadapan jamaahnya.

Peristiwa sejarah dalam perjalanan haji dan umrah tidak tepat jika hanya dikisahkan layaknya cerita pengantar tidur yang membosankan. Karena harapannya justru ketika para jamaah mendengarkan muthawifnya berkisah, terbelalaklah mata para jamaah, hilanglah kantuk dan tumbuh semangat keimanan.

Adakalanya Muthawif harus berteriak lantang di lembah Gunung Uhud memperagakan seorang panglima perang memimpin pasukannya, tapi di saat yang lain dia pun juga harus mampu memainkan emosi para jamaah hingga mereka ikut merasakan gentingnya penduduk Madinah ketika kotanya dikepung 10.000 pasukan ahzab atau yang kemudian dikenal sebagai perang badar.

Muthawif juga terkadang harus menuturkan kisah secara mundur dari prosesi haji yang dicontohkan Rasulullah, rombongan haji yang dipimpin Abu Bakar as-Shiddiq, penyelewengan haji oleh kaum jahiliyah hingga ritual haji di masa Nabi Ibrahim.

Dengan berbagai macam latar belakang jamaah baik dari sisi pendidikan hingga usianya, tentu tidak mudah sebuah ceramah bisa dipahami seluruh jamaah. Tetapi dengan penuturan kisah yang baik, anak kecil hingga orang tua akan mendengarkannya. Begitupun yang berpendidikan rendah hingga seorang guru besar akan mengambil manfaatnya.

Perlu Anda ketahui, lebih dari separuh microphone seorang Muthawif akan digunakan untuk menuturkan kisah. Lantas, sudah seberapa lihai Anda dalam menyajikan kisah?

Mari berlatih, menuturkan kisah sangat bergantung pada latihan dan jam terbang si Muthawif.

Rafiq Jauhary
Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s